Prosesi Cabut Gigi

Sudah pernah cabut gigi??Cabut gigi ketika masih kecil karena emang saatnya tanggal sih sakitnya ga terasa. Tapi bagaimana dengan cabut gigi karena

Obat dari puskesmas sudah habis, tapi aku kok merasa ada yang aneh ya. Lalu aku cerita dengan teman-temanku yang anak kesehatan tentang masalah gigiku.

Katanya dalam sms, “Walaupun sementara ga sakit. Ujung2ny bakalan sakit. Mau ta punya gigi jadi kemah stategis para bakteri? Dicabut ga sakit kok, ntar ad dianestesi alias dibius biar ga sakit…percya deh..”

Racun kalimat sms yang sejenis di atas, terus terbayang di otakku. Sabtu sore aku putuskan untuk pergi ke dokter gigi. Sesampainya di klinik, dokter yang kelihatan sudah professional terlihat dari panjangnya gelar di namanya dan terlihat dari umurnya, langsung dengan alumunium kecil yang simple membuka lebar-lebar mulutku untuk melihat gigi yang sudah ga pantas lagi dipertahanin di mulut. Lalu dokter mengetuk gigi cacat itu.

tuk..tuuk..tuuk…

“Sakit??”, tanya dokter.

“agak sakit dok”

“Berarti dicabut besok aja. Karena obat biusnya akan sia-sia kalau masih gignya masih sakit.”

“sudah sekarang aja kalau emang ga begitu sakit”, sahut ibuku.

“Gimana??”, tanya dokter minta kepastianku.

Aku masih terdiam, bukan untuk berpikir tapi malah bayangin proses cabut gigi yang menyeramkan.

“kalau memang mau dicabut sekarang. Ntar aku tambahin deh obat biusnya biar ga terasa sakit pas dicabut.” kata dokter.

“sekarang aja deh dok.”, jawabku singkat dengan dengan keraguan.

“ya udah, dicabut sekarang ya??”

“?!@#!?…”,mau bilang ‘iya’ tapi takut, mau bilang ‘tidak’ tapi mau sampai kapan aku akan ngrasain sakit gigi yang ga jelas kapan sakitnya.

“IYAA dok.”, jawabku mantap setelah teringat betapa tersiksanya hari-hariku bersama gigi yang sudah ga sempurna ini.

Proses cabut gigi is begin!!

Prosesi cabut gigi dimulai dengan menyuntikkan obat bius. Assistant dokter mengambil suntik, lalu mengisi penuh dengan obat bius. Setelah di senggol-senggol bagian ujungnya. (Kalau di sinetron-sinetron githu ujung suntikan akan ada kilatan cahayanya. :D) Lalu suntikan itu diserahin ke dokter. Dokter memasukkan suntikan itu ke mulutku, di gusi lebih tepatnya. Suntikan itu menusuk di tiga tempat berbeda di sekitar gusi. Sakitnya seperti di gigit semut (argument klasik orang tua agar anaknya mau disuntik). Bener saja kaya digigit semut, tapi dengan jumlah puluhan menggigit di satu tempat yang sama dengan ukuran semut gede-gede. Tapi aku tetep harus (sok) kuat dan diam karena ga mungkin kan aku bilang sakit, sedang di mulut tertanam suntikan. Malu juga masa sudah gede disuntik takut. (yang masih takut disuntik, maaf y..piss)

Setelah disuntik, harus menunggu sekitar 15 menitan untuk menunggu kerja bius. Jumlah menit yang semakin lama berbanding terbalik dengan jumlah kata yang bisa aku ucapkan, mulut seperti terkunci. Obat bius itu selain membuat aku ga bisa ngomong juga membuat daerah bibir menjadi gurun pasir yang sangat kering dengan oase di dalam mulut dengan air ludah yang jumlahnya semakin meningkat tanpa disadari dan tanpa bisa kontrol.

Saat namaku terdengar dari ruang tunggu, aku segera masuk ke ruang praktik dokter.

“gimana udah kaku mulutnya?”,tanya dokter.

“ha hi hisa ngomong dok,” jawabku ga jelas karena memang susah terbuka.

Lalu dokter menyuruhku duduk di bangku eksekusi dengan penerangan lampu kuning yang sangat terang di atasnya. Tangan kanan dokter sudah siap dengan alat pencukil yang entah apa namanya, yang jelas bukan alat pembuka tutup botol. Sedangkan di tangan kiri masih dengan alat untuk membuka mulut lebar-lebar.

Dengan gesitnya dokter mencongkel gigiku. Agaknya dokter harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mencongkelnya karena gigi gerahamku terlalu kuat yang sewajarnya tidak dicabut. Setelah bunyik ‘klik’ terdengar, dokter mengganti senjata di tangan kanannya dengan tang gigi. Tidak berbeda dengan masalah sebelumnya, dokter mengeluarkan tenaga lebihnya. Sambil menggoyang-goyangkan gerahamku ke kanan dan ke kiri, sampai terdengar jelas suara ‘grek…grekk..’, seperti suara besi tertindih yang diambil dari tumpukan.

Mengerikan juga sih, tapi mana mungkin aku menghentikan ditengah-tengah eksekusi itu. Bisa-bisa gigiku malah galau, keluar tidak masuk tidak. Suara itu bertahan beberapa detik sampai akhirnya bisa keluar dengan terpaksa dari mulut. Berhubung aku penasaran dengan bentuk gigi yang menggangu ini, aku memberanikan diri untuk melihatnya. Ternyata gigi geraham yang kelihatannya cuma setinggi 2-3 cm, setelah terlihat beserta akar-akarnya berukuran 4-5 cm. Gigi yang berwarna merah karena lumuran darah itu diguling-gulingkan dokter karena sadar akan rasa penasaranku.

Alhamdulillah prosesi cabut gigi berjalan lancar walaupun dengan sedikit paksaan. Lalu gusi ditutup dengan bulatan kapas untuk mengurangi kucuran darah. Setelah diberi beberapa obat dan beberapa peraturan  seperti minum obat setelah makan dsb. Dokter bertanya, “ada yang ditanyakan?”. Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena susah membuka mulut.

“Semoga cepat sembuh ya,” kalimat penutup dari dokter sambil tersenyum.

‘Terkadang sesuatu yang baik harus dimulai dengan paksaan.’ #terpaksaitubaik

4 pemikiran pada “Prosesi Cabut Gigi

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s