Sakit Gigi??Jangan Pernah Kembali

Kemarin aku berbagi cerita tentang pilihan “sakit hati atau sakit gigi”. Sekarang aku akan berbagi ceritaku tentang pengalaman sakit gigi yang tidak diundang.

Sudah sekian tahun aku ga pernah sakit gigi. Sakit gigi itu kembalidatang tanpa diundang, dan ga pulang-pulang. Mengusir sakit gigi tidaklah mudah, udah diberi apapun yang (mungkin) diminta tapi tetep aja ga mau pergi. Sampai aku korbankan waktu tidur, waktu nonton bola, waktu maen PES, bahkan waktu belajarku hanya untuk menemaninya. #setiaterpaksa

Sakit gigi bisa membuat kita melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kita inginkan.

Dua hari kulewati malam untuk mencoba tidur nyenyak, walaupun tidak sepenuhnya berhasil. Karena walaupun aku sudah memejamkan mata, mematikan lampu. Aku tidak bisa berhenti bergerak untuk melawan rasa sakit. Menutup muka pakai bantal guling, mukul-mukul guling ga jelas, muter di atas kasur kaya jam dinding, berkumur pakai air garam, jalan mondar-mandir kayak orang bingung padahal ga bingung, bolak-balik ke kamar mandi untuk gosok gigi, dan hal lain yang ga jelas lainnya.

Hari ketiga, aku masih tetap mencobanya di malam ketiga sakit gigi ini. Sampai akhirnya malam itu memaksaku untuk mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Bendera putih ini tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakit, sehingga aku mencoba jalan lain yaitu dengan keluar kos, menembus gelap dan dinginnya malam, menerjang lampu lalu lintas yang cuma berkedip-kedip kuning. Semua yang aku lakukan itu hanya untuk membeli kebutuhan mendesak gigiku, beberapa butir obat. Tapi pengorbanan malam itu sia-sia karena sesampainya di Apotik. Di pintu apotik yang berlabel ”K24” itu terpasang tulisan “tutup”. Dengan sangat terpaksa, sakit gigi ini ditambah rasa kecewa. -_-

Teringat kesuksesan masa lalu, beberapa tahun silam. Sebelum aku sampai di kamar penyiksaan gigi, aku menyempatkan mampir beli koyo cabe di Ind*maret. Setelah aku sampai di rak obat, aku mencoba meyakinkan gigiku dengan membaca kegunaan koyo ini. Di belakang kemasan koyo, tertera jelas bahwa koyo mampu mengurangi rasa sakit gigi. Setelah gigiku yakin, kembalilah aku ke kos dengan penuh harapan gigiku bisa bermitra baik dengan mataku (baca: tidur nyenyak).

Diluar rencana dan diluar keinginanku, hari rabu hari aktif kuliah. Hari dimana seharusnya aku duduk belajar di ruang kelas yang ga ber-AC, terpaksa tidak bisa aku lakukan karena demo bakteri di gigi semakin menjadi. Setelah berpikir panjang, aku putuskan untuk segera pulang dan mengobatinya. Kenapa harus pulang?? Karena jika mengobati di rumah jaminan kesembuhan lebih besar dibanding hanya diobati di perantauan. Di rumah keperluan apapun bisa terpenuhi dengan mudah.

Sore pukul 5 sore sampailah aku di istanaku (Rumahku Istanaku). Setelah mandi dan istirahat sebentar, aku diajak ke tempat seseorang yang katanya bisa menyembuhkan sakit gigi dengan meminum air. Sebelum aku meminum air mujarab itu, aku mencoba melihat dengan seksama isi dari gelas coklat yang berisi penuh air itu. Di dalam gelas itu ada batu kecil seukuran jempol yang habis dipanaskan, panas batu itu terlihat dari panasnya gelas dan gelembung-gelembung yang ada Nampak di permukaan air. Sebelum aku meminumnya ada peringatan kalau setelah meminum air itu akan merasakan sakit yang amat sangat. Setelah mendengar kalimat itu, aku mulai membayangkan, aku minum air lalu gigiku terasa sakit banget. Aku memukul-mukul meja, melempar gelas sebagai isyarat sakit yang mendalam. Bayangan itu hilang ketika bapak tua di depanku bilang, kalau cara minumnya dengan dikumur 3 kali sisanya diminum. Demi kesembuhan gigiku aku ikutin aja perintahnya. Walaupun sebenarnya tidak logis sih. Satu jam, dua jam, dan seterusnya rasa sakit yang katanya akan datang itu tidak kunjung datang juga. Syukur deh. Melalui perantara segelas air itu, aku bisa tidur dengan nyenyak.

Berhubung aku ga percaya dengan pengobatan tadi malam, paginya aku melanjutkan berobat ke puskesmas. Setelah mendapat beberapa bungkus obat dengan pelayanan di puskesmas ga begitu ramah, aku pulang dengan perasaan tenang dan yakin dengan obat ini semua masalah gigiku selesai. Apa emang pelayanan di semua instansi negeri seperti ini ya?? Semoga tidak…

Tidak puas hanya dengan minum obat, aku lanjutin peperangan ini dengan cabut gigi.

‘Jangan pernah merasa cepat puas atau menganggap masalah itu selesai kalau belum menuntaskan masalah tersebut sampai ke akar-akarnya.’ #semangat

Satu pemikiran pada “Sakit Gigi??Jangan Pernah Kembali

  1. Lebih baik sya sakit hati dari pada sakit gigi
    sakit gigi itu h.mmmm,sakit nya itu
    menjalar ke telinga,mata ,kepala, dengar orang berisik itu,kepengen marah mulu,,,banting barang yg gk bersalah kyak orang gila,, wkwk

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s