Aku ‘Terpaksa’ Mentoring

Mentoring. Nama atau istilah yang belum familiar bahkan belum pernah aku dengar semasa SMA apalagi sebelumnya. Aku baru mendengar kata ‘Mentoring’ waktu menginjakkan kaki di tanah Teknik Universitas Diponegoro ini. Ketika GOM Fakultas dan Jurusan tetapi aku belum mengenal arti dan maksud dari mentoring itu sendiri. Hanya tahu bahwa kepanjangan GOM itu Grand Opening Mentoring, tidak lebih. Ketidakpahamanku terhadap kata tersebut membuat aku bertanya-tanya tetapi bingung mau tanya kepada siapa. Ramainya peserta saat acara GOM membuat aku tidak bisa mengikuti acara secara maksimal, dengan kata lain tidak paham dengan arti dari mentoring tersebut.

Sampai akhirnya aku mengerti arti mentoring saat kegiatan mentoring berjalan. Menurutku kegiatan mentoring adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan semangat mahasiswa dalam belajar agama serta menumbuhkan keingintahuan mahasiswa tentang Islam. Melalui mentoring tersebut mahasiswa juga bisa berbagi cerita permasalahan-permasalahan mereka khususnya tentang masalah agama, seperti tata cara beribadah. Di mentoring mereka bisa mendiskusikan permasalahan mereka untuk mendapatkan jalan keluar atau solusi dari permasalahan yang sedang dialami.

Melalui mentoring, aku bisa mengevaluasi ibadah yang telah aku kerjakan dalam kurun waktu tertentu. Apakah aku termasuk orang yang merugi karena intesitas ibadah yang berkurang atau termasuk orang yang beruntung karena meningkatnya semangat dalam menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, aku bisa merubah kebiasaan yang kurang mendukung dalam pengembangan diri menjadi kegiatan yang lebih baik dan positif serta selalu mengingat Allah.

mentoring(123rf.com)Mentoring | sumber: 123rf.com

Di dalam mentoring sendiri, tidak hanya membahas langsung tentang ilmu agama. Namun, membahas permasalah dunia yang kemudian dikembalikan ke ajaran Islam untuk mendapatkan jawaban terbaik sebagai solusi yang tepat. Sehingga lambat laun, kegiatan mentoring akan menjadi suatu kebutuhan tiap minggu yang harus dipenuhi. Seperti ada yang kurang ketika mentoring tidak berjalan. Kalimat tersebut muncul ketika dalam kondisi semangat mencari ilmu agama saat ingat pentingnya ilmu agama untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun begitu seperti kebanyakan orang, aku pasti pernah merasakan beratnya melangkahkan kaki menuju majelis ta’lim tersebut karena berbagai alasan duniawi. Untuk melawan hal tersebut, aku masuk ke dalam organisasi yang bernama Rohis khususnya departemen mentoring. Sehingga ada paksaan baik untuk mencegah meninggalkan mentoring. Melalui paksaan tersebut aku bisa lebih memahami pentingnya mentoring untuk menjauhi hal-hal yang bersifat galau.

Setahun sebagai peserta mentoring atau mentee, aku rasa kurang kalau cuma mendalami dan belajar agama dalam waktu yang singkat itu. Syukurnya ada follow up mentoring yang bernama Liqo’. Sehingga niat yang baik tersebut bisa terlaksana. Di dalam liqo’, kegiatannya semakin menarik dan nyaman karena di sini kita lebih aktif di dalamnya dan lebih dekat dengan teman-teman.

Sudah mengikuti mentoring ditambah liqo’, aku rasa tetap belum cukup untuk menjadikan aku sebagai seorang pementor. Tetapi karena tuntutan ‘profesi’ sebagai kepala department mentoring membuat aku ‘terpaksa’ mengikuti ujian pementor. Alhamdulillah keterima tapi benar-benar tidak mudah untuk menerima amanah tersebut dan muncul berbagai pertanyaan tentang bagaimana caraku menjadi seorang pementor sedang akhlaqku sendiri masih jauh dari apa yang disebut baik. Bagaimana nasib mentee-ku kalau pementornya seperti aku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut reda ketika ada yang bilang kalau jadi pementor sudah ada timeline materi yang harus kita sampaikan dengan ditambah kita memperdalam materi tersebut. Dengan demikian, aku bisa belajar lebih tentang materi yang harus aku sampaikan. Selain itu, melalui jadi pementor ini saya bisa belajar sedikit demi sedikit untuk mewujudkan mimpiku menjadi orang yang berguna dengan menyampaikan ilmu atau berdakwah kepada orang lain di masyarakat kelak. Karena ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang tidak akan ada habisnya walaupun kita telah meninggal dunia. Aku juga percaya bahwa aku ‘tersesat’ ke dalam jalan yang benar yang akan membawa aku dan lingkungan sekitar ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Semoga aku bisa menjalankan amanah ini dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.

Satu pemikiran pada “Aku ‘Terpaksa’ Mentoring

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s