Satu Malam = Seribu Bulan

Mungkin 3 paragraf awal ini tidak begitu penting, bisa di skip dan langsung ke TKP di paragraf 4. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur’an.

Beberapa hari yang lalu aku mendengar kultum yang biasa dilakukan di masjid dekat rumahku, kultum setelah selesai sholat maghrib. Kultum yang materinya dari buku ‘Fadhilah Amal’. Biasanya setelah doa aku akan menyempatkan untuk mendengarkan sedikit, tentang apa tema yang dibacakan. Kalau temanya menarik aku tetap stay kalau tidak aku langsung angkat kaki. Tema yang aku dengar kemarin itu tentang malam lailatul qadar. Maka aku tetap duduk diam mendengarkan. Berhubung aku tidak puas dan penasaran dengan yang dibacakan, maka tadi malam sejak salam tarwih rakaat ke-4 terdengar aku sudah melirik buku tebal yang ditaruh di lemari masjid. Ingin segera membuka dan membacanya.

Akhirnya tarawih dan witir selesai, sehabis jabat tangan langsung saja aku menuju ke lemari tempat buku yang berserakan. Walaupun tidak rapi tetapi buku di situ lumayan banyak. Halaman pertama yang aku tuju adalah daftar isi, dilanjutkan halaman 692 ‘Malam Lailatul Qadar’. Isinya panjang kali lebar namun tidak dikali tinggi, baru baca satu paragraf saja sudah bikin ngantuk. Namun kantuk tidak sanggup mengalahkan rasa penasaranku. Lalu aku baca dan rangkum di hape untuk aku share di mari. Berikut rangkumnya:

 

Malam lailatul qadar itu adanya hanya bagi umat Nabi Muhammad SAW, dengan kata lain tidak ada di umat sebelumnya. Kenapa demikian?? Menurut beberapa hadis, hal tersebut dikarenakan umat Rasulullah yang sangat pendek (± 63 tahun) dibanding dengan umur umat-umat terdahulu dari umat Nabi Adam AS sampai Nabi Isa AS. Yang mencapai umur ratusan tahun. Jadi tidak mungkin umat Rasulullah akan menandingi amal umat-umat yang terdahulu. Oleh karena itu dikaruniakanlah malam lailatul qadar supaya bobot amal kita dengan mereka sebanding. Satu malam = 1000 bulan = 83 tahun 4 bulan, lama bukan.

Bayangkan aja kita jika selama 1000 bulan kita terus beribadah, jungkir balik di masjid tanpa istirahat. Impossible!! Tetapi mungkin bagi kita untuk beribadah dalam waktu beberapa jam di malam bulan Ramadhan ini. Kalau mungkin bekerja dengan iming-iming rupiah saja rela lembur sampai larut pagi, apa susahnya menyisihkan waktu 10 hari malam terakhir untuk semangat dalam beramal dan beribadah. Mungkin penyebabnya ini, jika bekerja kita akan langsung melihat wujud nyata hasilnya namun untuk ibadah kita tidak bisa melihat langsung hasil pahalanya. Padahal dalam firman Allah SWT,

“Hai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah, maka akan Aku lapangkan keperluanmu dan Aku hapuskan kemiskinan. Jika tidak, Aku akan membebanimu dengan kesibukan dan kemiskinan tidak terhapus.”

Jadi jelas kan, kita sisihakan waktu mencari rezeki kita untuk beribadah maka akan Allah berikan rezeki bagi kita hingga kemiskinan kita terhapuskan. Namun jika kita merasa terlalu sibuk untuk keperluan dunia sampai melupakan kewajiban beribadah kita, maka Allah akan menambah beban kesibukan buat kita. Pilih mana, istirahat sebentar bekerja untuk ibadah lalu dapat rezeki atau mencari rezeki (tidak beribadah) lalu tambah sibuk tetapi miskin??

Sepuluh malam tidak akan terasa berat jika dibandingkan dengan besar pahala yang dijanjikan oleh Allah, asalkan kita beribadah dengan iman dan ikhlas hanya mengharap ridha Allah semata. Ibadah-ibadah tersebut antara lain: sholat, dzikir, tilawah, berdoa, dsb.

Mungkin timbul pertanyaan kenapa tidak dipastikan saja malam keberapa malam lailatul qadar itu turun, biar jelas kapan kita harus beribadah serius pada malam keberapa?? Ada beberapa kebaikan dibalik rahasia tersebut :

  1. Jika diberitahukan terlebih dulu pasti orang akan enggan beribadah pada malam-malam yang lain,
  2. Kalaupun tidak mendapatkan malam lailatul qadar, maka akan mendapat pahala tersendiri,
  3. Akan benar-benar memaksimalkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah,
  4. dan masih banyak manfaat lain yang tidak kita ketahui.

Berikut tanda-tanda malam lailatul qadar dari buku yang aku baca di lemari perpustakaan masjid At-Taqwim tersebut:

  1. cahaya bersinar terang,
  2. rasa tenang dan lapang dibanding dengan malam-malam sebelumnya,
  3. cuaca cerah, tidak dingin dengan suasana yang tenang,
  4. muncul kenikmatan dalam menjalankan ibadah.

Tanda-tanda tersebut hanyalah sebagai patokan, yang mungkin tidak tepat sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadi kita tidak perlu terlalu memperhatikan tanda-tanda tersebut, cukup kita maksimalkan amalan kita pada tiap malam sepuluh terakhir Ramadhan. Terlepas dari perbedaan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah yang membedakan malam ganjil di antar keduanya. Malam lailatul qadar tetap ada, sesuai dengan malam ganjil keyakinan masing-masing. Jangan jadikan perbedaan menjadi perdebatan yang tidak berujung. Hadapi perbedaan dengan toleransi dan rasa saling menghargai.

Sungguh beruntung bagi kita umat Rasulullah dengan dikaruniakannya malam lailatul qadar. 10 hari disisihkan, 1000 bulan didapatkan. Mari kita hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan 1433 H ini dengan semangat ’45 yang bertepatan dengan 10 malam terkhir ini. Mari beramal dan beribadah…^^

NB: berikut foto buku tebal yang aku lirik pas salam shalat tarawih😀

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s