Sepakbola Putih-Merahku

GambarBagi anak berseragam putih-merah (baca: SD) di daerahku, sepak bola adalah paling dikenal terutama oleh anak cowok. Sedangkan cewek, satu-satunya olahraga yang dimainkan adalah olahraga lempar-pukul-lari, kasti. Olahraga kitapun hanya di halaman sekolah yang ga begitu luas karena jarak ke lapangan sepakbola kelurahan yang cukup jauh bagi ukuran anak SD yang cuma bermodalkan kedua kaki untuk berjalan. Sesekali juga ke lapangan bola tapi bukan tiap jadwal olahraga berlangsung.

Lapangan sepakbola kelurahan sebenarnya tidak layak untuk disebut lapangan bola, karena tanahnya yang berombak selain itu gawang kayu yang miring kedepan ditambah ga ada jaringnya. Lebih parahnya lagi bagian selatan lapangan yang berbatas dengan tumbuhan bambu, menyebabkan lapangan sisi selatan banyak duri bambu yang berkamuflase dengan warna rumput yang kering ketika musim kemarau. Pernah dulu, aku baru aja nyampe di lapangan terus lari melakukan pemanasan, tanpa sengaja aku menginjak duri bambu yang menyebabkan aku harus balik ke sekolahan lebih awal.

Halaman yang ketika hari senin pagi buat upacara bendera dan tiap hari jum’at buat senam berjamaah itu menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi yang mereka yang suka bermain bola. Aku mulai ikut merasakan atmosfer bahagia sepakbola setelah aku mulai duduk di kelas 3 caturwulan 3. Setelah aku diajari cara menendang bola yang (agak) bener oleh tetanggaku. Waktu belajar menendangku bertepatan dengan acara World Cup Korea-Jepang 2002 yang semakin menambah semangat bermain bolaku meningkat. Walaupun aku belum begitu tahu tentang acara 4 tahunan itu, yang pasti momen tepat untuk belajar bermain bola.

Pertama diajari bermain bola itu, aku bukannya diajari shoot, passing, dribble ataupun control ball tetapi malah suruh belajar juggling (menendang bola ke arah vertical dan mempertahankannya supaya tidak jatuh ke tanah). Kata pelatihku (baca: kakak sepupu yang sekaligus tetangga sebelah rumah), “Nek pengen iso maen bal-balan ki sing penting iso juggling sik. Laine ngko gampang.” (Kalau mau pintar bermain bola itu yang penting bisa juggling dulu.) Aku yang ga ngerti dasar-dasar bermain bola sama sekali cuma bisa mengangguk sebagai tanda paham dan setuju. Selama berhari-hari tiap sore, aku belajar juggling di halaman tetangga yang agak luas didampingi pelatih gadunganku. Perlahan namun ga begitu pasti aku mulai bisa memainkan bola. Bola yang aku dapatkan dari bapak saat aku bisa menutaskan tantangan dari bapak saat itu.

Akhirnya aku mulai memberanikan gabung dengan anak-anak yang bermain di halaman sekolah ketika bel istirahat berbunyi. Latihan tiap soreku mulai aku terapkan di sekolahan. Juggling diterapkan dalam permainan sepakbola, gimana mainnya?? Ga tau kenapa, yang awalnya aku cuma bisa juggling bisa bertransformasi menjadi passing, dribble, control dan shoot. Dan mulai deh, aku merasakan senangnya bermain bola di halaman paving sekolah.

Saat di sekolah aku melihat kakak kelas (selisih 3 tahun) yang jago banget bermain bola. Dia bisa lari kencang sambil mendribble bola, bahkan menendang bola dengan lurus, kencang dan bisa membelok tiba-tiba. Setelah berkenalan ternyata dia memiliki nama panggilan “Dero”, singkatan dari “Del Piero”. Kreatif. Dia memang sangat nge-fans sama Del Piero dan JUVENTUS. Gara-gara orang inilah aku jadi ikutan nge-fans sama klub Itali, JUVENTUS. #forzaJUVE

Mulai kelas 5, anak-anak kelas 5 lebih sering menggunakan halaman sekolah untuk bermain bola. Dengan lawan tanding kelas 3, 4 bahkan kelas 6. Kelas 6 tidak begitu mendominasi karena angkatan atasku ini yang bisa bermain bola cuma sedikit, tapi terkenal ga mau kalah. Tiap mereka kalah bermain pasti permainan langsung berubah jadi anarki, dengan ayunan kaki meraka yang lebih condong mengarah ke kaki pemain lawan daripada ke arah bola. Mengerikan.

Saat kelas 5, tahun itu acara kartun yang memiliki rating tertinggi adalah Captain Tsubasa. Sampai virus Tsubasa membuat imajinasiku untuk menyamakan tokoh pemain-pemain Tsubasa di dalam tim sepak bolaku. Seperti Tsubasa, Misaki, Hyuga, dll (dan lainya lupa :D) Aku sebagai Misaki, karena memiliki visi bermain yang bagus dan skill juggling…hohoho. Umar sebagai Tsubasa, karena bisa menirukan backhell Tsubasa (beneran ini, aku aja juga ga percaya dia bisa melakukannya). Amir sebagai Hyuga, karena bingung aku mau kasih dia sebutan apa. Bryan sebagai pemain Nankatsu bernomor 8 (lupa namanya), karena kehebatannya dalam duel udara. Dan temen lainya seperti pemain di Nankatsu yang belum kesebut namanya. Haha

Pernah dulu pas lawan anak kelas 4, Misaki (aku) dan Tsubasa (Umar) layaknya Tsubasa-Misaki sebagai pasangan emas yang terus mengoper bola dengan sekali sentuhan sampai di depan gawang. Sialnya, tinggal beberapa meter di depan gawang, Umar tanpa melihat arah larinya menabrak tiang badminton sebelum menerima operanku. Untungnya dia tidak apa-apa, wajah teman-teman yang awalnya panik dan takut menjadi tawa lepas. Hahaha

Saat angkatanku menduduki kasta tertinggi di sekolah, kami menjadi tim sepakbola tak terkalahkan di lingkup satu sekolah. Karena sudah menginjak tahun terakhir, imajinasi kartun Tsubasa mulai digantikan dengan permainan sepakbola yang rasional. Saat itu ada perlombaan sepakbola antar SD tingkat kecamatan. Layaknya tim beneran, kita para pemain yang mewakili SD N Newung 2, sebelum bermain melakukan diskusi untuk pola dan strategi bermain di dalam ruang kelas dengan pintu ditutup. Dipimpin oleh ketua kelas (Bryan) sambil mencoret-coret papan tulis hitam dengan kapur penuh debu. Tidak berbeda jauh dengan imajinasi sebelumnya. Berhubung ketua kelasku nge-fans sama Manchester United, teman-temanpun diberi nama satu persatu sesuai dengan posisi bermain mereka layaknya pemain MU. Bryan sebagai David Beckham, Ali sebagai Diego Forlan, Amir sebagai Scholes, Umar sebagai Ruud van Nistelrooy, dll (dan lainya lupa).

Tanpa disangka, tim SD kami mampu mencapai partai puncak Turnamen Sepakbola tingkat Kecamatan. Di final kami bertemu dengan lawan tangguh, SD Bendo 2. Tim dengan materi pemain ideal, didominasi pemain bertubuh besar dan tinggi. Sangat kontras perbedaannya dengan tim SD kami. Sebelum kick off dimulai, salah satu bapak guru (Bp Suroto) memberi kata penyemangat dan iming-iming hadiah. Jika kita bisa cetak gol maka kita akan diberi uang, harga 1 gol = Rp 10.000,00. Dengan modal semangat dan fisik apa adanya, kita melangkah ke dalam lapangan. Awal-awal babak kita mampu unggul satu gol, berkat gol Umar lewat assistku setelah terjadi kemelut di depan gawang mereka. Namun lambat laun, stamina tim kita melemah dan mulai tercipta gol demi gol dari mereka yang tidak mampu kita cegah lagi. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk SD Bendo 2. Kita harus mengakui kehebatan mereka, tetapi kita juga pantas bangga dan puas dengan hasil Juara 2 tingkat kecamatan. Ya, tingkat kecamatan.

Sebuah kenangan manis yang tidak terlupakan (walaupun ada yang kelupaan juga..hehe). Sekarang sudah lama banget ga bermain bola bareng-bareng mereka. Bareng-bareng main bola sambil hujan-hujanan. Ngumpet di belakang gedung sekolah bolos pelajaran gara-gara capek main bola. Lari-lari selebrasi ketika bisa cetak gol. Melihat senyum wajah-wajah teman dan tertawa lepas ketika bermain bola. Melihat peluh keringat yang membasahi seragam putih-merah. Sering dimarahin bapak gara-gara sepatu sekolah cepet rusak buat nendang bola. Benar-benar kenangan yang indah dari tubuh-tubuh mungil berseragam putih-merah di sekolah yang dikelilingi persawahan . Semoga kalian semua menjadi orang-orang yang sukses di bidang kalian ya teman-teman. Dan semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan senyum bahagia kesuksesan. Aamiin🙂

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s