Survey Irigasi Wonosobo

Sore itu, hari Jum’at tanggal 9 November 2012 aku mendapat telepon yang intinya penawaran dari temenku untuk menggantikannya dalam proyek irigasi di Wonosobo. Ketika mendengarnya aku ga bisa langsung jawab karena aku mendadak galau antara iya dan tidak. Sehingga kata yang keluar dari mulutku hanya kata “InsyaAllah”. Galau antara ninggalin kuliah dan ninggalin peluang untuk mendapat pengalaman baru. Ada 2,5 hari untukku mempertimbangkan kegalauan.

Ketika galau menyerang aku sempat bertanya kepada salah seorang temenku. Kata dia, ”TAKE IT!! Kalau aku biasanya diberi kemudahan dari-Nya. Tiba-tiba dosennya ga masuk J. Semua pasti ada kemudahan.” Setelah mendengar kalimat itu kegalauanku menurun 60% dan keyakinanku bertambah. Sehari setelahnya, tiba-tiba kegalauan itu pelan-pelan kembali meracuni otak dan bertambah 10%. Aku jadi merasa kalau diriku itu termasuk orang yang gampang bingung. Lalu kata temenku bingung itu tanda berpikir. Berarti anggapanku kalau aku orang yang gampang bingung itu salah, yang bener adalah aku itu orang yang berpikir…hahaha

Finally, aku putuskan untuk berangkat. Welcome new experiences ^^

Jam 2 siang aku berangkat dari Semarang ke Wonosobo dengan modal keyakinan dan sedikit ingatan jalan yang baru sekali aku melewatinya. Kira-kira jam 4.30 pm aku menerobos gapura bertuliskan “Selamat Datang Wonosobo Asri”.

Pendahuluan dan latar belakangnya cukup ya…🙂

Proyek irigasi ini adalah proyek dari DPU (Dinas Pekerjaan Umum) yang tujuannya untuk mendata keadaan saluran irigasi dari beberapa sungai di Wonosobo mulai di mulai dari bendungan sampai ujung aliran irigasi. Peralatan yang dipakai berupa GPS, kamera dan alat tulis. Cara kerjanya, dalam 1 tim terdapat 3 orang. Satu dari dinas sebagai penunjuk jalan menuju lokasi dan menunjukkan jenis saluran. Dua surveyor, Surveyor 1 bertugas mengidentifikasi dan memotret saluran dari tiga sudut berbeda sedangkan Surveyor 2 bertugas menggunakan GPS untuk marking saluran dan tracking jalur saluran irigasi.

Kenalan dulu dengan tokoh dalam cerita ini :

  1. Bapak Musofa (tanpa huruf “T”) sebagai orang Dinas PU. Kelebihan: friendly, mampu mendengar dan menemukan corongan sekecil apapun itu, memiliki daya ingat tinggi, semangat berjalan kaki yang luar biasa.
  2. Muh Kun sebagai Surveyor 1. Kelebihan: membuat garis lurus tanpa penggaris, mampu menghitung dengan jeli administrasi keuangan, mampu meninggalkan barang dimana saja, mampu tidur lebih cepat sebelum Surveyor 2 tidur.
  3. Ali Amirrudin A sebagai Surveyor 2 (pernah menjadi Surveyor 1). Kelebihan: selalu berusaha kuat untuk berjalan berkilo-kilo meter, pantang untuk menyerahkan GPS kepada orang lain, mampu bangun sebelum Surveyor 1 terbangun.

Berikut contoh hasil gambar pekerjaannya:

Pengertian jenis salurannya yang saya tangkap dari pengamatan dan penjelasan bapak dari dinas PU sebagai berikut:

  1. Penguras : saluran yang digunakan untuk menguras debit air yang terlalu banyak.
  2. Sadap : saluran yang digunakan untuk mengairi beberapa area tanah (berupa persawahan dan perkebunan).
  3. Corongan : hampir sama dengan sadap tetapi saluran langsung mengairi satu area tanah.
  4. Afoor : aliran air yang masuk ke dalam saluran irigasi.

Pekerjaannya sebenarnya simple tetapi cara menjalankan pekerjaannyalah yang membuat tidak sesimple teori. Cara bekerjanya, kita harus berjalan kaki. Ya JALAN KAKI, sepanjang saluran irigasi yang akan disurvey. Panjang saluran irigasi terpendek 1 KM dan terpanjang 13,43 KM. Tidak semua yang dituliskan di daftar saluran irigasi itu benar, karena irigasi yang tertulis 1 KM dalam kenyataanya bisa mencapai 2 atau 3 KM bahkan lebih.

Jika kita asumsikan, 1 langkah kaki = 0,5 M maka 1 KM = 2.000 langkah. Ga mungkin kan kita berangkat tetapi ga pulang (pulang-pergi). Jadi jumlah langkah untuk 1 KM adalah 2×2000, 1 KM = 4000 langkah. Dalam sehari rata-rata kita menghabiskan 3 DI (Daerah Irigasi). Rata-rata tiap DI, 4 KM. Jadi jumlah langkah dalam sehari = 3 DI x 4 KM x 4000 langkah = 48.000 langkah kaki. Mantap bukan.  Bisa ngalahin program “Seribu langkah sehari Susu Anl*ne…hehe

Itu hitungan kasarnya, karena ada satu-dua DI yang bisa ditempuh dengan motor dan ada juga medan yang mengharuskan kita untuk memperpendek langkah karena jalan yang licin dan ekstrim. Setelah berjalan kaki berkilo-kilo, naik motor itu seperti anugerah yang luar biasa sekali. Serius. Kalian akan benar-benar merasakan nikmatnya naik motor.

Daerah irigasi yang kita data adalah Kecamatan Selomerto yang terdiri dari 12 DI (Bawang 1 KM, Capar Jeruk 3,8 KM, Ceger 1 KM, Jeruk 3,8 KM , Jimat 3,6 KM, Kedung gupit 1,3 KM, Kedung nongko 5,35 KM, Kemadu 3,2 KM, Kembang 3,55 KM, Kudi 1,59 KM, Mungkung 13,43 KM dan Wuni 3,20 KM). Untuk Jimat dan Kemadu sudah didata sebelum aku datang, tersisa 10 DI.

Untuk rincian cerita pengalaman ketika kerjanya ada di Three Days in Wonosobo.

Semangat langkahkan kaki menuju pengalaman baru!! ^^

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s