‘5cm’ Gunung Lawu

Cover Lawu

Lawu, 15 Juli 2010

Setelah ngabisin waktu seharian dari kuliah pertama mulai sampai adzan isya’ terdengar, duduk di kursi belakang saat kuliah (jangan pernah dicontoh), hanya untuk nyelesein baca novel “5cm”. Aku ngebet banget untuk baca sampai halaman akhir hari itu juga karena tanggal 12-12-12 tepatnya jam 9 malam aku dan temen-temen geodet nol sepuluh mau nonton film “5cm” di Cinema 21 Citra Land. Tanggal spesial itu aku habiskan untuk membiarkan imajinasiku bergerak liar sesuai deskripsi Dony Dirganthoro. Imajinasi yang bikin aku tertawa sendiri, menegakkan bulu kuduk, terlarut dalam kalimat-kalimat yang berubah menjadi visualisasi nyata di depan muka. Membuat ruangan kelas terisi penuh berterbangan imajinasi novel “5cm”. Aku Cuma ingat judul dari materi pokok kuliah hari itu, Survey Hidrogafi dengan materi Sedimen dan Geodesi Satelit dengan bahasan BLVI.

Saat membaca “5cm” yang salah satu setting-nya di Gunung Semeru imajinasiku malah bergerak ke arah selatan pulau Jawa, Gunung Lawu. Nota bene gunung yang memberiku pengalaman pertama mendaki tak terlupakan dan spektakuler. Sambil membiarkan imajinasi liar “5cm” bergerak bebas di otak, aku mulai membuka folder-folder memori saat mendaki gunung Lawu. Daripada folder-folder itu aku biarkan di dalam otak saja, maka aku akan mencoba mengkonversi folder tersebut menjadi rangkaian kata dalam sebuah file di ms. Word.

Check it dot!

Jalan-jalan naik gunung yang bertinggi 3265 mdpl di Jawa Tengah ini dilakukan 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN. Tanpa bertujuan untuk meminta doa pada gunung untuk meluluskan ku dan temanku yang ikut SNMPTN. Jalan-jalan ini bagiku untuk menambah stock pengalaman baru, pembelajaran baru, mensyukuri nikmat dan kekuasaan Allah dari sudut pandang mata manusia yang berbeda tidak hanya lingkup dataran Sragen saja.

Dengan minim persiapan naik gunung karena bagiku ini merupakan pengalaman pertama naik gunung. So, aku cuma bisa siap-siap sesuai dengan instruksi teman yang telah berkali-kali naik-turun gunung via Short Message Service (SMS). Selesai ngumpulin barang-barang yang penting dibawa, seperti: jas hujan, senter, kantong plastik, lotion anti nyamuk, jaket, celana training, mie instan, madu, coklat, snack, dll (Dan Lainnya Lupa.maklum udah 2,5 th yang lalu). Berhubung aku ga punya yang namanya tas gunung yang tingginy segunung, aku masukin paksa semua barang-barang tadi ke dalam tas yang fungsi sebelumnya hanya sekedar menampung buku.  Walaupun dengan tas sekolah, niat di dalam hati tetep naik gunung kok ga naik kelas.

Akhirnya jam 12.00 tengah siang di pos induk ‘Cemoro Sewu’ kita bertujuh siap untuk mencatatkan pengalaman baru di tanah tinggi di Pulau Jawa bagian selatan. Ali, Arista, Helda dan Tika. Empat anak SMA yang belum pernah tahu medan apa yang akan dilalui dan tiga anak SMA yang telah paham benar jalan mana yang seharusnya ditapak, Luqman, Riana dan Dewi. Sehabis melakukan stretching kita pun mulai mengayunkan kaki menuju punjak Hargo Dumilah (Puncak Lawu).

istirahat di pos

Istirahat di Pos

Awan menjadi mendung, gerimis menjadi hujan, terang menjadi gelap, semangat menjadi capek, cepat menjadi lambat, detik-detik menjadi jam-jam, matahari berganti menjadi bulan dan bintang. Pos-pos telah dilewati dengan lancar dan sukses men-charge tenaga untuk melanjutkan perjalanan.

di atas awan

Di Atas Awan

Daaaan…

Akhirnya di balik gelapnya malam yang benar-benar gelap, sekitar jam 9 malam. Sampailah kita di bangunan tertinggi yang ada di gunung lawu, bangunan yang entah bagaimana ceritanya dulu bisa berdiri di situ. Ada rumah yang lumayan luas, yang bisa menampung banyak orang, ada tungkunya juga buat memasak air, menanak nasi. Kita bisa minum teh hangat, kopi, susu ataupun jahe, yang pasti tidak ada jus buah. Ada listrik juga. Keren bukan, di ketinggian 3rb-an mdpl lho.

Karena keadaan sangat gelap dan capek. Aku hanya bisa berjalan membuntuti yang lain untuk menuju tempat istirahat. Sampai akhirnya berhenti di bangunan seng berukuran sekitar 5x5m dengan bekas api unggun di bagian tengah ruangan. Sungguh benar-benar udara yang sangat dingin, mungkin suhu udara paling dingin yang selama ini pernah aku rasakan (sebelum beberapa tahun lagi merasakan dinginnya salju…aamiin hehe)

Benar-benar ga cuma perjuangan berjalan dari ‘Cemoro Sewu’ menuju Puncak Lawu tapi perjuangan menghangatkan badan demi memulihkan stamina untuk menyambut hari esok juga butuh perjuangan. Hidup adalah Perjuangan. (apa sih..) Setelah sholat jama’ qasar maghrib dan ‘isya, makan mie minum susu dan menghabiskan beberapa jam perjuangan memejamkan mata, tepar juga badan di dalam sleeping bed.

matahari mulai menampakkan diri

Sambutan Mentari Pagi

Pagi telah tiba.

Masya Allah. Subhanallah. Alhamdulillah. Luar biasa. Indah sekali.

Maha Agung Allah mencipta alam semesta ini dengan lukisan yang tiada bandingannya. Pagi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dengan siluet awan berbatasan dengan gradasi warna orange fajar yang sangat mengagumkan. Tumbuhan hijau yang bergerak sesuai irama angin segar pagi yang berhembus sangat lembut. Seakan berada di khayangan, berada di daratan tinggi di atas awan. Suasana pagi yang sangat menenangkan yang mampu melupakan semua masalah dan membuat mulut dan hati seakan tidak berhenti mensyukuri indahnya kuasa Allah yang ditunjukkan dengan sangat jelas di depan mata.

merbabu dan merapi dari lawu

Merapi dan Merbabu Terlihat Sangat Kecil dari Puncak Lawu

Matahari mulai memperlihatkan bangunan yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas, kuning kecoklatan warna tanah, sabana dan stepa yang terhampar luas, tugu Puncak Gunung Lawu, bunga-bunga gunung dan bahkan bentuk batuan yang (agak) menyerupai ujung kapal Titanic.

Rumah Kaleng

Rumah Kaleng

Tebing berbau belerang tajam

Tebing Berbau Belerang

indahnya!!

Keren kan (pemandangannya)??hehe

Cover LawuTugu Puncak Gunung Lawu 3265 mdpl

Kecapekan, keletihan, kedinginan, kelaparan, kehausan yang dirasakan selama setengah hari perjalanan dibayar lunas beserta bonus-bonusnya di sini. Di puncak Gunung Lawu ini. Kepuasan batin yang tidak bisa diperoleh di Wisata Bahari Lamongan atau Duffan sekalipun. (perbandingan yang sangat jauh dan sangat berbeda ya) Seandainya beneran ada pintu Doraemon, besok pagi aku pengen ke sana…hehe

Memang benar lukisan Allah tidak mungkin dilukiskan dengan kata-kata. Kalian harus merasakan dan melihat dengan mata kepala sendiri untuk membuktikannya. Coba deh buktikan sendiri!

Merasakan perjuangan perjalanan di dalam hujan, di dalam gelap, di dalam hutan, mencium bau belerang, merasakan kulit yang tertusuk dinginnya malam, dan akhirnya merasakan kepuasan batin yang tak terkira setelah melihat pemandangan mengagumkan dari daratan bertinggi 3265 mdpl. Merasakan persahabatan, tolong menolong, bekerja sama, saling berbagi dan indahnya pertemanan dalam canda tawa.

Alhamdulillah aku telah diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Lawu yang telah membuka semangat baru.🙂

 

Maaf ya kalau dalam cerita di atas ga ada hubungannya dengan ‘5cm’ nya Dony Dirghantoro. Karena memang aku dengan beliau tidak ada hubungan apa-apa.😀

Sebagai permintaan maaf, berikut aku cuplikan katakata favoritku dari novel yang aku selesain dalam waktu sehari.

  • Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma….
  •  Cuma …

kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,

tangan yang akan berbuat lebih banyak berbuat dari biasanya,

mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,

leher yang akan lebih sering melihat ke atas,

lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,

dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,

serta mulut yang akan selalu berdoa.

  • Kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan Cuma seonggok dagigng yang hanya punya nama.

~ 5 cm, hal. 362-363

4 pemikiran pada “‘5cm’ Gunung Lawu

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s