Sopir Bijak dan Curhatan Kondektur

Sore itu, tidak biasanya aku pulang ke rumah dari Semarang dengan alat transportasi bus. Sebenarnya aku tidak begitu suka naik bus, apalagi sendirian. Bakalan jadi perjalanan yang akan membosankan sekali, ketika kita duduk diam sendiri selama hampir 4 jam di dalam balok yang berjalan di atas aspal. Berhubung aku tidak ingin hanya melihat pohon yang bergerak semu di pinggir jalan dari kaca samping bus, maka ketika bus yang berjalan dari arah utara terminal Sukun (terminal di depan ADA Swalayan, Banyumanik) menepi turun dari aspal aku langsung masuk lewat pintu depan dan tanpa piker panjang duduk di barisan paling depan dekat pintu masuk. Di situ udah ada perempuan agak gemuk yang berumur sekitar 30-an tahun berkacamata yang sudah duduk dengan nyaman. Setelah menendukkan kepala sebentar untuk permisi duduk di sebelah beliau, aku duduk di samping beliau. Beliau orangnya ramah, setelah aku duduk langsung diajak ngobrol. Beliau bercerita tentang tujuan perjalanan dan perkenalan asalnya. Cukup berkenalan, aku mulai menyalakan mp3 untuk menganti suara bising bus dengan suara yang lebih merdu.

Sampai di sekitar bawen, aku melihat dan sedikit mendengar ada keseruan obrolan antara sopir dan kondektur bus. Mereka agaknya diskusi sesuatu yang penting. Setelah mendengar satu pertanyaan kunci dari sang kondektur, aku bisa menyimpulkan bahwa tema diskusi mereka adalah “Menjaga Keawetan Rumah Tangga”. Dengan latar belang selingkuh dan rumusan masalah susahnya meninggalkan kebiasaan selingkuh. Mengundang narasumber Sopir bijak yang sangat berpengalaman, dan dimoderatori oleh Kondektur ahli selingkuh yang hendak tobat.

Usut punya usut, alasan utama sang kondektur selingkuh adalah karena dia merasa di rumah tidak dilayani dengan baik. Jangan berpikiran negatif, maksud dilayani di sini seperti disiapin makanan, disiapin baju ketika mau kerja, dll. Pokoknya seperti kewajiban istri seharusnya. You know what I mean lah…hehe. Pokok permasalahan utama istrinya, sang istri terlalu capek bekerja di pabrik sehingga tidak ada waktu yang lama buat si suami. Selain itu, kadang sang istri juga kerja di shift malam sehingga ada kesempatan buat si suami selingkuh.

Semua permasalahan yang dialami kondektur selalu dijawab dengan jelas oleh sopir yang berbadan kurus tinggi ini. Si sopir selalu menjawab dengan solusi berikut contoh nyata dengan bijaknya, seolah si sopir sudah expert sekali dalam hal tersebut. Seperti talksow gratis yang bertempat di audioturium berjalan.

“Ngopo yo mas kok nek wis pernah selingkuh pisan ki, ketagihan selingkuh ae?”, tanya si kondektur.

“Selingkuh ki emang marai ketagihan, tapi sithik-sithik suwe-suwe iso mari nek kowe pengen tobat tenan. Asal kowe niat tenanan.”, jawab sopir.

“Ben iso mari piye mas?”

Berikut kira-kira poin-poin jawaban si sopir agar menyembuhkan penyakit selingkuh:

  1. Pahami keinginan istri, kalau pengen sesuatu harusnya kita juga beri sesuatu.
  2. Komunikasi, bicara terbuka dan mendengarkan dengan baik curhatan sang istri.
  3. Jujur, bicara apa adanya. Ketika pertanyaan yang harusnya dijawab A harus dijawab A jangan dijawab B. katakanlah yang sebenarnya walaupun pahit rasanya.
  4. Buat liburan khusus berdua untuk menciptakan lagi keromantisan.

Entah dari mana si sopir dapat tips itu, entah dari pengalaman pribadi atau hasil browsing dari internet. Mendengar jawaban si sopir, kondektur menjawab dengan singkat ‘oalah’, ‘ngunu tho’, ‘pantesan’ dan kata singkat lainya yang selalu diikuti dengan anggukan kepala.

Ternyata tidak hanya aku saja yang mendengarkan obrolan itu, perempuan yang dari tadi duduk di sampingku juga mendengarkan dengan seksama talkshow gratis ini. Karena saking serunya topik obrolan, tak terasa bus telah menempuh 60% perjalanan menuju Solo. Di pom bensin selatan tingkir, bus berhenti untuk mengisi bahan bakar dan parkir sebentar. Lalu si sopir beserta kondektur keluar entah ke mana. Awalnya aku pengen nyalain mp3 lagi, tetapi aku melihat ibu di sampingku sibuk dan panik mencari handphone di tas. Setelah handphone ketemu, si ibu langsung mencari kontak dan memencet tombol panggil. Selang beberapa detik, terdengar suara ibu yang telpon dengan suara agak keras.

“Pak, kowe nang ndi?”,istri bertanya ga nyantai.

“Lagi nang omah.”, suami menjawab dengan santai.

“Lagi ngopo pak?”, istri belum puas dengan jawaban suami.

“……..”, jawab suami. (entah jawabnya apa, yang jelas tidak selingkuh :D)

“Owh, yo wis. Mau iki, mripatku kedutan.”

“Ora ana apa-apa kok buk.”

Tahu ga maksudnya??hehe.

Intinya si istri merasa ada firasat buruk yang sedang dialami keluarganya ditandai dengan mata yang keduten (Kedutan adalah gerak reflek spontan pada syaraf yang terjadi tanpa kita kendalikan namun dapat kita rasakan pada kelopak mata.). Beliau takut suaminya yang berada di rumah selingkuh, setelah mendengarkan curhatan si kondektur tadi. Mendengar obrolan telpon itu bikin aku harus menahan ketawa sambil memalingkkan muka membelakangi beliau. hihihi

Perjalanan yang aku perkirakan bakal membosankan banget teryata berrotasi 180 derajat menjadi perjalanan yang menyenangkan dengan banyak hikmah pelajaran yang bisa diambil berikut kejadian lucunya.

Jangan pernah sekalipun selingkuh ya!! hahaha

2 pemikiran pada “Sopir Bijak dan Curhatan Kondektur

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s