Magnet Kota Baja Cilegon

Cilegon (Cilegon Kota)

“Sebulanan di timur pulau Jawa, kenapa tiba-tiba pengen ke barat ya.” (‘ke barat’ bukan berarti mencari kitab suci bareng kera sakti ya). Kalimat itu yang tiba-tiba muncul dalam otakku ketika aku tinggal sendiri, makan sendiri, nonton tivi sendiri, sholat sendiri bahkan tidurpun sendiri (ya iyalah) di kos 28.

Beberapa hari kemudian, dapet tawaran dari senior untuk berangkat ke barat. Kalimat ngelantur yang cuma terbesit beberapa kali dalam sejam itu ternyata menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Sebenarnya bukan saat yang tepat untuk menerima tawaran itu, berhubung partnerku salah satu orang terpandai dan orang yang memiliki jabatan tertinggi di angakatan 2010. Berangkatlah aku, walaupun saat ditanya, “Mau apa enggak?” aku menjawab dengan awalan kata “eeeee….” sambil berpikir singkat.

Another new experience begins….

Berangkat di atas dua baja sejajar waktu malam itu membuat tidur sambil duduk dalam dinginnya AC melewati 9 jam perjalanan. Semarang Tawang-Pasar Senen, ekonomi AC, Rp 185.000,00. Tidak lupa alat tempur seorang surveyor Total Station cs udah tertata rapi di atas dan di bawah tempat duduk bersandaran tinggi.

Stasiun Pasar Senen. Jarum pendek jam menunjuk angka 4. Ternyata peralatan yang kami berdua bawa ini memang belum banyak yang mengenal. Aku harap cepat atau lambat akan banyak orang yang mengenalnya. (*pukpuk Total Station). Bahkan, sopir yang mengantar kami ke kantor PT. Rekayasa Penta Asia (RPA) menyangka bahwa kami ini akan syuting film. Entah yang dipikirkannya wajah kami mirip artis (figuran), atau mirip OB sutradara. Namun dengan sabar dalam kantuk, kami menjelaskan bahwa kami adalah SURVEYOR.

Jalan Pancoron Timur

Peta PT. RPA, daerah Tebet

Sepagi (#bukan bahasa baku) di Jakardah, siangnya menuju ke Cilegon kota baja. Bisa dikatakan beruntung bisa dikatakan tidak, 3 hari belum bisa mulai kerja cuma standby aja. Dan hari-hari itu diisi dengan nonton film, makan, mandi, dan jalan-jalan. (thu kan jalan-jalan lagi). :p

Sore di kota yang ga kalah panasnya dengan Semarang ini, kami jalan-jalan di pantai Anyer. Menunggu sunset di atas bangku bambu sambil ceprat-cepret dengan kamera saku. Ini hasilnya:

Sunset Anyer

Sunset Pantai Anyer

Selasa mulai menggunakan seperangkat alat ukur sewa, untuk pengukuran rencana pipa gas dari Banten Inti Gasindo. Keringat mulai bercucuran dalam jaket parasut tebal warna merah hitam, seorang surveyor amatir mondar mandir centering alat di kawasan industri Krakatau Steel. Dalam beberapa hari di kawasan industri aku bisa melewati bermacam-macam benua di dunia. Karena nama-nama jalan di kawasan ini berlabel nama benua, Jalan Asia, Eropa, Australia, Amerika, Antartika. Perasaan ada benua yang kurang. Afrika. Aku belum menemui nama benua ini.

Jalan Asia 1

Nama Jalan bukan Nama Tempat

Berhubung Cilegon ini termasuk daerah pesisir pantai yang memiliki ketinggian sekitar 15an mdpl, maka tidak bisa dihindari panas matahari dan panasnya angin yang berhembus jadi sahabat setia setiap hari. Cuaca inilah yang mampu membakar mukaku menjadi semakin eksotis. Kalau kata guru fisikaku, ‘e’ mendekati nol.

Intinya kerjaan di sini adalah pemetaan situasi untuk mengetahui mau dipasang di mana sih pipa gas ini biar bisa mendistribusikan ke pabrik-pabrik githu. Di mana dan kapan harus dipasang di bawah tanah, di mana mau di pasang di atas tanah dan dimana-dimana yang lainnya. Gambar sketsa peta kawasan industrinya rencana pipa:

Untuk mengisi waktu 3 hari standby, aku sempat nnton film yang bikin aku memasang wallpaper yang belum pernah aku pasang sebelumnya, dan sampai saat menulis tulisan ini aku belum menggantinya. Film tersebut adalah “Miracle of Giving Fool”. Film yang menceritakan seorang yang idiot yang bla bla bla. Silakan cari filmnya dan ambil hikmahnya sendiri. Bagi yang melankolis jangan lupa siapin juga tisu…hehe

Hari ke-10 atau hari terakhir di barat bukan mencari kitab suci ini, kami (aku dan Denni) berencana untuk jalan-jalan ke GKB eh GBK dan monas dulu sebelum pulang. Ternyata, menggambar situasi dan cross sectionnya lebih lama dari perkiraan kami. Plan Failed.

Bukti pemesanan tiket Kereta Api Sembrani kelas Eksekutif tujuan Semarang Tawang sudah terselip dalam dompet sejak pukul 2 siang. Sekitar pukul setengah 6 kami berangkat dari Tebet menuju ke Stasiun Gambir (FYI: biaya taksi Rp 35.000). Walaupun rencana untuk mengunjungi menara berpuncak emas gagal, tetapi kami bisa melihat megah dan kokohnya monumen itu dari kursi tunggu kereta. Dan ini dia suasana malam monas😀

Monas

Suasanan Malam Monas

Pokoknya jangan takut mencoba hal baru deh, kalian akan menemukan banyak ilmu dan sesuatu yang belum kamu kenal. Dan itu sangat seru. Pikiran itu seperti magnet yang akan menarik sesuatu yang tidak kasat mata, apapun yang kita pikirkan. Baik keinginan atau kekhawatiran. Walaupun keinginan atau mimpi itu hanya muncul di otak saja, tetapi lebih baik lagi jika kita menuliskan keinginan itu dalam selembar kertas atau buku. Semangaat!!🙂

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s