(Bukan) Prestasi Olahraga

Hampir 15 tahun bermain olahraga sepakbola dan adiknya sepakbola, futsal. Baru mulai di bangku perkuliahan ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi juara, bagaimana rasanya mendapatkan prestasi, bagaimana rasanya mendapatkan penghargaan, bagaimana rasanya mendapat dukungan. Memang belum bisa mendapatkan prestasi akademik, prestasi yang bisa dibanggakan di depan orang tua, prestasi yang tidak mengandalkan fisik dan tidak berkeringat. Namun aku rasa di bidang non-akademikpun juga bisa disebut sebagai sebuah prestasi.

Sebenarnya bukanlah prestasi yang ‘wow’ atau ‘foya’ (jargon fatin) apalagi luar biasa. Cerita ini hanyalah cerita pengalaman yang tidak begitu penting untuk dibaca. Namun penting untuk diingat (bagi penulis) sebagai pengalaman yang lucu dan absurd namun membahagiakan buat cerita anak-cucu. hahaha

Turnamen futsal atau sepakbola merupakan ajang yang tepat buat aku ikuti sebagai salah satu manusia yang hobi bermain olahraga tersebut. Kalau olahraga lain mana bisa aku bermain, apalagi ikut kompetisi.

Sudah menjadi kegiatan rutin, sekolah mengadakan turnamen futsal/sepakbola untuk memperingati hari jadi sekolah pada tiap tahunnya. Namun, di kompetisi/turnamen itu jarang (sekali) tim yang aku bela memperoleh kemenangan, apalagi juara. Hanya sekedar menjadi tim pelengkap dan penggembira acara saja. Kasian.

Futsal TARKAM

Untuk turnamen di luar sekolah, pernah aku diajak oleh teman sekolah untuk bergabung dengan tim dari desanya. Iya, desa. Dua kali aku diajak oleh dua teman yang berbeda. Bermain dalam turnamen Wakil Bupati Cup dan turnamen yang entah apa namanya. Untuk turnamen yang aku sebut kedua, yang diperebutkan bukanlah uang jutaan rupiah ataupun trophy, melainkan seekor kambing. Iya, kambing.

Di kedua tim yang aku bela itu, aku cuma mengenal teman yang mengajakku aja. Selain itu, tidak ada yang aku kenal sama sekali dan kita juga tidak pernah kenalan, hanya saling melempar senyum ketika muka kami bertemu secara tidak sengaja. Kebanyakan dari mereka umurnya 10 tahun lebih tua dari aku. Bermain setim dengan orang yang lebih tua itu susah sekali, apalagi tidak saling mengenal.

Permainan yang berada di bawah garis pas-pasan yang lebih ke arah kasar dan keras, tidak ada skill atau strategi, yang dipikirkan hanyalah satu, GOL. Bagaimanapun caranya, bola yang mereka tendang bisa masuk ke gawang dan timnya menang. Permainan tarkam dengan satu fokus tujuan saja, gawang. Sampai-sampai tidak mengenal siapa lawan siapa kawan. Semua harus disingkirkan demi terciptanya gol. Mengerikan juga sih main di turnamen tarkam seperti itu, tidak terlihat tim medis yang berjaga-jaga. Hanya doa yang bisa menyelamatkan pemain dari risiko cedera.

Suatu kebetulan yang aneh, dua kali aku mengikuti turnamen. Namaku dipanggil dengan nama samaran, nama pasaran yang ada di masyarakat desa, tetapi juga merupakan nama yang familiar untuk pencita sepakbola nasional, pemain nomer 1 di tanah air versi ali amirrudin. Siapakah nama itu?? BAMBANG. Ya, nama yang disebutkan dengan jelas dan lantang oleh komentator saat aku membawa bola plastik berbungkus lakban di lapangan. Apalagi saat ‘Bambang’ mencetak gol, nama itu akan mendapat penekanan dan tambahan huruf vokal yang banyak menjadi BAMBAAAAANG.

Kebetulan yang aneh, karena di tempat dan turnamen berbeda, namun aku memiliki nama panggilan yang sama. Mungkin harapan dari nama panggilan itu supaya aku bisa bermain layaknya permainan Bambang Pamungkas. Harapan orang lain untuk bermain seperti seorang Bambang Pamungkas itu bisa dikatakan sebagai prestasi ga ya?? Hehehe

Futsal yang Sebenarnya

Jeng jeng. Inilah turnamen yang sebenarnya dan turnamen semi-sebenarnya. Di kampus Universitas Diponegoro, aku mulai bergabung dalam berbagai tim futsal mulai dari tim angkatan, tim jurusan, tim fakultas, tim fakultas yang mewakili universitas, dan tim diluar itu.

Tim angkatan biasanya dibentuk hanya untuk turnamen lokal se-Geodesi aja, kompetisi antar-angkatan, maka dari itu aku sebut sebagai semi-turnamen. Karena ketika menang-pun, aroma kemenangannya hilang dalam waktu 3 hari. Setelah 3 hari, kemengan itu sudah tidak terasa. Walaupun demikian, gengsi untuk mendapatkan juara itu tetap ada. Prestasi terbaik tim angkatanku 2010 adalah Juara 1 Futsal Geodesi yang diadakan oleh angkatan 2012. Sedangkan prestasi individunya, aku sebagai top skor dalam acara yang sama. Mungkin ada prestasi 2010 yang lain tetapi terlalu cepat hilang kenangan itu.

Di tim jurusan, aku sudah mulai bergabung sejak awal masuk kuliah pada turnamen antar-jurusan di Fakultas Teknik. Tekanan dan dukungan saat bermain untuk jurusan itu suasananya sangat mengesankan. Ketika berada di lapangan pertandingan, selain tekanan dari permainan itu sendiri juga akan terdengar suara-suara sumpah serapah yang keluar dari mulut lawan. Tetapi dukungan yang memotivasi kita untuk tampil maksimal dan memberikan yang terbaik juga tidak kalah banyak. Benar-benar aura turnamen yang seru, menegangkan sekaligus mengesankan. Selama bergabung dengan tim jurusan dan telah mengikuti berbagai macam turnamen (sekitar belasan turnamen), prestasi terbaik tim Geodesi adalah Juara 3 ENVIRO Cup 2012.

Aku baru mulai bergabung dengan tim fakultas Teknik, pada tahun ketiga sekaligus kesempatan terakhir untuk membela tim Teknik. Angkatan ketiga dari bawah merupakan angkatan maksimal yang boleh mengikuti turnamen. Di dalam tim teknik, selain mengikuti turnamen untuk mewakili fakultas kadang juga mewakili universitas. Untuk bergabung dengan tim ini, aku harus melalui beberapa proses seleksi pemain. Sampai saat tulisan ini aku tulis, tercatat aku telah mengikuti 3 turnamen, yaitu: Turnamen STAIN di Pekalongan, Olimpiade UNDIP 2013 dan EFC 2013. Untuk prestasi sebagai pemain fakultas adalah sebagai Juara 1 #olimpiadeUNDIP2013. Benar-benar prestasi yang sangat mengesankan dan memberi warna cerah baru dalam dunia futsalku. Apalagi ada cerita tersendiri saat proses perolehan juara tersebut.

 

Yap, begitulah prestasi yang bukan prestasi dari pengalamnku dalam bidang non-akademik. Walaupun prestasinya tidak sebanyak tulisannya, tetapi aku akan terus berusaha untuk membuat prestasi yang lebih panjang dari tulisannya. Maaf ya kalau tulisannya membosankan, tapi itu based on true story lho. Semoga tulisan yang tidak begitu jelas itu bisa menginspirasi kalian. hehehe

 

Jangan menganggap remeh suatu usaha sekecil apapun, hargailah usaha kamu sendiri sebagai sebuah prestasi yang luar biasa, setidaknya menjadi prestasi dalam sejarah hidup diri sendiri. Jangan pernah merasa puas dengan prestasi yang telah diraih. Ciptakanlah prestasi-prestasi lainnya yang lebih dan lebih baik lagi dengan usaha yang maksimal. Keep moving forward and do the best brooo!!

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s