Sabtu, 4 Juli 1992

Gara-gara baca Benabook-nya @benakribo yang di halaman paling depan, saya jadi pengen bercerita juga tentang detik-detik kelahiranku. Ga mungkin kan kalau masih di dalam perut ibu tapi udah tahu apa yang terjadi di sekelilingku. Penasaran dengan kelahiranku, mulailah saya mewawancari kedua orang tuaku untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya terjadi. Ditambah lagi dari kakakku, narasumber yang ga diundang. Sengaja tidak bertanya ke kakakku, aku ga yakin dia inget proses persalinanku karena umur dia masih delapan tahun.

Tulisan ini juga aku tulis karena ini bulan Juli (ga nyambung), sekaligus pelengkap dari tulisan sebelumnya twenty years old. CEKIDOT!!

Sosok wanita 28 tahun menangis di dalam kamar yang dikunci dari dalam. Di luar kamar, beberapa orang berusaha membujuk wanita tersebut untuk keluar kamar, termasuk suaminya. Setelah sukses dirayu akhirnya wanita yang hamil 8 bulan itu mau keluar kamar. Berangkatlah pasangan suami-istri itu ke pendopo bupati untuk mengikuti acara pelepasan haji. Wanita tersebut hanya meratapi kesedihan karena batal berangkat haji gara-gara mengandung anak keduanya. Betapa berdosanya anak ini, menggagalkan ibunya berangkat haji. Karena masih di dalam kandungan, maka dosa anak ini dicabut. (Calon) anak ini tidak jadi berdosa.

Empat bulan lalu, seandainya ibu ini sudah mengetahui kalau sedang hamil mungkin dia tidak jadi mendaftarkan diri. Baru deh, saat tes kesehatan ketahuan kalau beliau sedang hamil empat bulan. Aneh memang, sudah hamil 4 bulan tapi tidak menyadari kalau di dalam rahimnya terdapat calon anak manusia yang cakep dan pinter (kata ayahku sih) seperti ini. *ehem

Sebulan telah berlalu, suaminya telah pulang dengan selamat usai menunaikan rukun islam yang kelima. Ternyata, calon anak yang diperkirakan oleh bidan lahir 15 hari sebelumnya belum juga hadir melengkapi kegembiraan keluarga sederhana itu. Padahal ayahnya telah menyiapkan hadiah spesial yang dibawakan langsung dari Arab Saudi. (Ga perlu bilang WOW.)

Jumat pon (hari jawa) tanggal 3 juli 1992 malam itu rumah masih ramai oleh saudara dekat yang berkunjung dan menginap menyambut kedatangan haji baru di desa tersebut. Jam bergerak meninggalkan angka 12, hari telah berganti, menjadi hari sabtu tanggal 4 Juli 1992. Tepat pukul 1 malam, dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi lampu petromax (bukan pertamax, bukan pula lampu listrik) ibu yang gagal naik haji ini terganggu tidurnya gara-gara ada yang menendang-nendang di dalam perutnya. (Bukan sedang main bola)

4 juli 1992Sabtu, 4 Juli 1992

Dengan sigap, suaminya segera meluncur mencari bidan unutk membantu proses kelahiran. Kesana-kemari mencari bidan, tidak ada satupun bidan yang mau dengan alasan hari terlalu malam dan takut proses persalinan gagal. Diambillah jalan terakhir, dukun beranak (kalau di desaku namanya mbah malem). Dari namanya aja udah sangat cocok untuk bekerja di tengah malam.

Dengan bercucur keringat, sampailah ayah beserta mbah malem di rumah. Baru saja melewati pintu depan, sudah terdengar “oeeeek” dari ruangan tengah rumah. Terlihat sosok bayi mungil dan unyu berkelamin laki-laki  terlahir di dunia dengan selamat tanpa bantuan bidan ataupun mbah malem. Nah, bayi unyu itulah SAYA.

ALI AMIRRUDIN AHMAD

Kegagalan berangkat naik haji ibuku tahun 92 ternyata menjadi berkah tersendiri buat ayahku. Lima tahun kemudian, tahun 97 ayah dan ibuku bisa berangkat haji. Kedua kalinya untuk ayahku dan pertama kalinya untuk ibuku.

Lalu, kapan yang dilahirin berangkat haji juga?? Secepatnya. Aamiin🙂

4 pemikiran pada “Sabtu, 4 Juli 1992

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s