Angka 1 dan Angka 0

Hari ini hari jumat, karena saya cowok maka pada hari jumat saya jumatan. Jumatan kali ini ada sesuatu yang berbeda dengan jumatan sebelum-sebelumnya. Saya sholat jumat di masjid ini untuk kedua kalinya. Bukan jumlah rekaat atau cara sholatnya. Bukan, tetapi yang berbeda adalah kondisi jamaahnya saat khotib berdiri di atas mimbar. Jumatan minggu lalu, saya amati banyak jamaah yang terhipnotis dengan rangkaian kata yang mengalun pelan dan indah sebagai pengantar tidur.

Bukan niat saya untuk membandingkan khotibnya. Tetapi saya hanya ingin berbagi ilmu yang disampaikan oleh khotib jumatan ini. Bagi kalian yang tadi ga jumatan di masjid tebet dekat kantor kerja praktik saya pasti enggak tahu khotibnya seperti apa. (Ya iyalah). Maka dari itu saya akan mencoba mengulang apa isi khotbahnya. Karena saya rasa ini akan menjadi ilmu yang bermanfaat jika dibagikan untuk semua muslimin dan muslimah.

***

Memang tidak ada angka yang buruk. Semua angka itu spesial. Termasuk kamu yang baca tulisan ini. Iya kamu. Kamu itu spesial. #modus

Saya tidak akan membahas banyak angka di sini. Saya hanya akan membahas 2 angka saja, angka 1 (satu) dan angka 0 (nol). Ada dua sumber yang pernah membahas dua angka ini. Pertama, khotib yang tadi membagi ilmunya kepada saya dan jamaah lainya. Kedua, @jamilazzaini (jamilazzaini.com) yang pernah membahas angka 1 dan nol dari analogi yang lain.

Pertama,

khotib berbadan kecil yang kalau ngisi pengajian kayanya lucu banget.

Banyak amalan kebaikan yang kita lakukan di dunia ini. Karena memang dunia ini adalah ladang akhirat. Apalagi, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Amalan kebaikan itu sangatlah banyak macamnya. Seperti:  berbakti kepada orang tua, sedekah, membaca Al-Quran, menyingkirkan paku di jalan, berwudhu sebelum tidur, berdoa sebelum tidur, makan dan minum dengan tangan kanan, dan amalan baik yang lainnya.

Ternyata amalan-amalan kebaikan tadi itu nilainya adalah 0 (nol). Sedekah nilainya 0, membaca Al-Quran nilainya 0, menyikirkan paku nilainya 0, dan lainya itu nilainya 0. Hanya sholat yang bernilai 1 (satu). Jika kita sholat dan berbakti kepada orang tua, maka nilainya 10. Kita sholat, berbakti kepada orang tua dan membaca Al-Quran, maka nilainya 100. Begitu seterusnya, semakin banyak amalan kebaikan yang kita lakukan dengan diiringi sholat 5 waktu, maka nilainya akan semakin banyak. Demikian sebaliknya, seberapa banyakpun kebaikan yang telah kita kerjakan tanpa diiring dengan amalan sholat, maka kebaikan yang sangat banyak banget tadi hanya bernilai 0 alias tidak berarti apa-apa sama sekali. Rugi banget.

Diluar hitungan nilai 1 dan 0, amalan sholat itu sangatlah penting sekali untuk dikerjakan 5 waktu sehari.  Berikut analoginya.

Ketika ada seorang pejabat yang muncul di tivi karena terkait dengan kasus korupsi, maka pejabat tersebut pasti akan malu banget sampai ga berani keluar rumah. Masyarakat biasa pun kalau namanya tertulis di kantor kepolisian sebagai buronan, pasti juga akan sembunyi-sembunyi karena malu dan berusaha menghindari polisi. Tidak hanya dirinya sendiri yang malu, tetapi keluarganya juga ikut menanggung malu.

Menurut sabda Rasulullah yang kurang lebih isinya, “Barang siapa yang berani meninggalkan sholat maka namanya akan ditulis di pintu neraka jahanam.” Bukan lagi ditulis di kantor polisi atau diberitakan di tivi tetapi di pintu neraka. Kenapa kita makhluk Allah, tidak malu jika kita pernah meninggalkan sholat. Berani-beraninya kita meninggalkan sholat. Tidak hanya kita, malulah jika masih ada di keluarga kita yang belum atau tidak mengerjakan sholat.

Kedua,

@jamilazzaini –inspirator #SuksesMulia

Berbeda dengan khotib di atas, kek Jamil membahas angka 1 dan 0 dari sudut pandang dalam masalah memilih jodoh. Jadi someone (calon suami atau calon istri) itu pasti mempunyai beberapa karakter atau sifat atau kepribadian berbeda dengan yang lainnya. Kita pun sebagai calon yang akan memilih tentu juga menilai dari berbagai sifat tersebut. Kita pasti mempunyai beberapa karakter idaman yang dimiliki oleh calon pasangan hidup kita. Walaupun tidak harus semua karakter tersebut harus dimiliki semua tetapi setidaknya sedikit banyak, karakter idaman kita dimilikinya.

Beberapa karakter calon suami atau istri idaman antara lain: cantik/ganteng, perhatian, rajin, pandai, pengertian, saling mendukung, kaya, manis, humoris, romantis, artis, penulis, melankolis, eksis, narsis,  tidak krisis dan mistis, dan “-is” yang lainnya. Mungkin ada sebagian karakter idaman kalian di situ, dan ada beberapa yang lainya. Tetapi tahukah kalian kalau semua yang disebutkan di atas itu nilainya adalah 0 (nol). Secantik-cantiknya calon istri kalian itu nialainya hanya 0. Sekarang banyak sekali orang cantik itu, dan mudah sekali menemukan orang cantik. Mulai dari yang berhijab sampai yang tidak berhijab. Tetapi yang berniali 1 (satu) adalah agamanya.

Seperti halnya dengan hitungan nilai pada amalan kebaikan pada paragraf sebelumnya. Agama itu nilainya 1 dan karakter idaman lainya itu nialinya 0. Jadi semakin banyak 0-nya semakin besar nilai calon istri dan calon suami anda.

 

Maaf ya kalau saya, yang masih berumur 21 tahun sudah memposting tulisan masalah pemilihan calon pasangan hidup. Tulisan di atas hanyalah copyan dari mesin fotocopy yang ada diotak saya. Lalu saya bagikan untuk diperbanyak. hehe

 

Ternyata nilai 1 dan nilai 0 berkaitan erat untuk perhitungan dan pertimbangan kita dalam memutuskan sesuatu. Silahkan hitung dan tentukan sendiri mau berapa 0 yang akan kita dapatkan. Yang terpenting jangan pernah melupakan angka 1 di depan. Angka 1 tersebut harus selalu ada sebelum membuat angka 0 di belakangnya.

Semoga jadi ilmu yang bermanfaat🙂

Jakarta, August 23 2013

3rd floor of boarding house

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s