Around Jakarta in Four Weekend (2nd week)

Ini ni lanjutan traveling Jakartanya. Kalau minggu pertama atau postingan kemarin jalan-jalannya via Busway, jalan-jalan kali ini kami menggunakan transportasi umum yang lain. Commuter Line atau KRL. Bagi yang belum tahu apa itu KRL, silakan browsing dulu di google.com. Bagi yang belum tahu siapa kami, silakan browsing dulu di facebook dan twitter hehe

Kami minggu kemarin berbeda dengan kami minggu ini, karena personil kami bertambah dua orang. Kalau kami minggu kemarin Saya dan Aboy, kalau kami yang sekarang Saya, Aboy, Sarmedis dan Nizma Huma. (abaikan paragraf ini)

Jadi, KRL itu sebangsa dan setanah air transportasi umum yang digunakan oleh orang banyak dengan membeli tiket terlebih dahulu dengan biaya tertentu tergantung banyaknya stasiun yang akan dituju. Membelinya dengan uang dan dengan antre. Nominal uang yang harus kita keluarkan itu minimal Rp 7.000, lima ribu buat jaminan kartu commuter dan dua ribu buat biaya transport stasiun minimal 1 sampai maksimal 5 stasiun yang akan dilewati. Jika lebih dari 5 stasiun maka akan dikenai biaya tambahan Rp 500 untuk setiap 5 stasiun berikutnya. Membingugkan ya??

KRLCommuter Line

Contohnya begini, kamu dari stasiun tebet menuju stasiun Jakarta Kota. Maka kamu akan melewati stasiun Manggarai-Cikini-Gondangdia-Gambir-Juanda-Sawah Besar-Mangga Besar-Jayakarta-Jakarta Kota. It mean, kamu melewati 9 stasiun maka kamu harus membayar Rp 2.500. Jika kamu hanya ingin ke stasiun Juanda maka kamu hanya membayar Rp 2.000. Walaupun ketika kamu membeli tiket bilangnya ke Jakarta Kota, tetapi kamu pengen turun di Juanda, its no problem. Namun sebaliknya, ketika kamu bulangnya ke stasiun Juanda tetapi kamu turunnya di Jakarta Kota. Nah, that is big problem. Paham kan??

Yaah, malah jadi ngomongin commuter. Semoga aja telinga commuternya tidak berdengung. Balik lagi ke traveliiiing….

Museum Fatahillah

Jakarta Kota (24/8) – Nama Fatahillah itu nama bekennya aja, nama aslinya itu Museum Sejarah Jakarta. Museum ini dulunya adalah Balai Kota yang dibangun oleh Belanda. Museum ini terletak di jalan Taman Fatahillah Jakarta No.2, Jakarta Barat. Museum Fatahillah memiliki 3 lantai dengan cat tembok warna putih yang udah tua, dihiasi kayu yang udah tua, pintu berwarna hijau tua. Makanya museum ini juga dikenal sebagai kota tua. Kalau di Semarang sih adanya kota lama. Terus duluan mana di antara dua kota tersebut? Kota lama atau kota tua?

Museum FatahillahMuseum Fatahillah

Seperti museum pada umumya, museum Fatahillah ini menyimpan barang-barang saksi sejarah pada jaman dahulu. Seperti: mebel antik, gerabah, keramik,  prasasti-prasasti, miniatur kapal, lukisan-lukisan, foto-foto jadul, perubahan-perubahan logo Jakarta. Pokoknya semua itu adalah jejak-jejak sejarah panjang perjalanan Kota Jakarta. Di sana terdapat beberapa meriam dibagian depan, tulisan “Gouvernourskantoor” di bagian depan atas, ada penunjuk arah mata angin pada bagian paling atas bagunan, dan patung (kecil) dewa Hermes di belakang Museum.

Biar sampai di museum dengan benar tanpa harus bertanya kepada orang jalanan yang belum tentu lokasi Museum Fatahillah. Setelah turun dari stasiun Jakarta Kota, stasiun yang ramainya banget, berjalanlah ke pintu keluar yang sebelah kanan. Lalu jalan aja lurus terus sekitar 155 m (bukan jarak yang sebenarnya). Jalan kaki dekat kok. Setelah berjalan 155 m, kalian akan bertemu dengan jalan belokan. Nah, bangunan tua yang di sebelah kiri itulah yang dinamain Museum Fatahilah atau Museum Sejarah Jakarta.

Stasiun Tebet —(Commuter line)—> Stasiun Jakarta Kota —>  belok kanan menuju tulisan KELUAR —> jalan kaki lurus terus sampai 155 m —> tengok sebelah kiri —> MUSEUM FATAHILLAH. Biaya: Rp 2.500 + pegel + panas

Museum Bank Indonesia

Belakang Museum Fatahillah (24/8) – Tetangganya museum, museum juga. Tetangganya Museum Fatahillah, ada Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri. Di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat, dekat jalur busway, tepat di depan stasiun Kota. Setelah memasuki museum, akan ada penitipan tas. Tinggalkan tas, cukup bawa barang-barang penting saja. Melewati pintu berputar yang sudah dilarang untuk diputar, lalu menemui mbak-mbak yang menyediakan tiket GRATIS.

Berbeda dengan museum Fatahillah yang tidak ada jalur kunjungan, alias kita bisa mulai dari ruangan secara acak. Di museum Bank Indonesia, sudah tersusun secara urut, dalam berbagai ruangan. Jadi, visitor tinggal mengikuti jalur museum secara urut. Setelah melewati pintu bertirai, terlihat beberapa patung yang menggambarkan kegiatan di bank pada jaman Belanda. Bebrapa langkah kemudian, akan ada sejarah perkembangan Bank Indonesia, mulai dari logo, kebijakan bank dari tahun ke tahun, dll.

bank biHarta Karun Rahasia di Bank Indonesia

Kondisi museum sangat rapi, bersih dan modern, efek lighting-nya juga keren. Jadi berasa memasuki bioskop atau rumah hantu, lampunya gelap berefek teknologi modern dan mult media. Display elektronik, televisi plasma yang menyediakan beberapa pilihan video dengan touch screen.  Ada juga ruangan yang kanan-kiri-depan-belakangnya cermin.

Ada juga ruangan khusus yang memamerkan bermacam-macam mata uang dari tahun sebelum merdeka sampai sekarang, baik uang kertas maupun uang koin. Saya yakin, banyak mata uang yang belum pernah kalian lihat di sini. Walaupun ada beberapa mata uang yang pernah kalian pakai buat beli permen jaman dulu. Tidak hanya mata uang Indonesia, di ruangan yang remang-remang ini juga ada mata uang dari berbagai negara.

Melawati ruangan yang full cermin tadi kalau tidak berhati-hati, nasib kalian bisa kayak cewek yang kemarin lewat di depan kami. Karena entah kebelet pipis atau kebelet nikah. Mbak-mbak itu jalan setengah lari tanpa menyangka kalau di depannya itu gambar pintu yang dipantulkan oleh cermin. Duuuuk, kepala membentur cermin lebih dulu lalu sambil memegangi kepala jalan sempoyongan membawa malu. haha

Lokasi museum dari stasiun Kota, tinggal keluar lalu cari depan stasiun. Nah, ketemu deh sama museum ini. Kalau dari museum Fatahillah, cari jalan sebelah kiri museum. Bisa sekalian melihat-lihat beberapa karya seni di pinggiran jalan kecil itu.

HTM Museum Bank Indonesia : GRATIS.

Selamat berkunjung ke museum, untuk mempelajari bagaimana keadaan jaman sebelum kita lahir dan menambah wawasan baru kita. Semoga bisa bermanfaat dan tidak menyesatkan perjalanan Anda.🙂

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s