Around Jakarta in Four Weekends (3rd Weeks)

Untuk minggu ketiga (31/8), ada cerita unscheduled journey di sini. Merealisasikan list traveling yang telah dibikin pada awal kedatangan di kota ibukota ini, trip selanjutnya adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

TMII (Taman Mini Indonesia Indah)

Kali ini peserta Around Jakarta in Four Weekends berkurang satu orang, Sarmedis. Dengan berkurangnya Medis, maka jumlah pesertanya menyisakan tiga orang. Ali Amirrudin Ahmad sebagai seksi penanya karyawan busway dan karyawan TMII serta seksi dokumentasi, yang kadang minta difoto juga; Alvian Danu Wicaksono sebagai seksi administrasi, ngumpulin duit buat bayar selama jalan-jalan yang kadang duitnya kurang lima ratus rupiah buat bayar busway; Nizma Humaidah sebagai seksi guide TMII yang kadang juga ga ngerti kalau ditanyain kamar mandi sebelah mana. Bukan kepengurusan yang resmi.

Seperti biasa berangkat dari Tebet, naik mikrolet bayar dua ribu rupiah turun di terminal Kampung Melayu. Nyodorin duit Rp 10.000 di loket untuk tiga orang penumpang, tu kan kurang lima ratus rupiah. Walaupun kami berangkat jam 9 pagi, tetep aja harus mengantri sebelum melebarkan langkah sebelum masuk ke busway. Weekend gini, busway memang hampir rame terus sepanjang hari. Meskipun itu koridor 7 sekalipun.

Transit di halte BNN, menunggu busway koridor 9 arah Pinang Ranti selama beberapa menit. Setelah berdiri di busway dengan puluhan orang di busway menuju Garuda Taman Mini. Kalau aku dan aboy cuma berdiri, si nizma beda lagi dia berdiri di antara ketek-ketek bapak saat pagi menjelang siang. Untungnya, sebelum nizma muntah dimabuk kepayang sama ketek busway sampai juga di halte Garuda Taman Mini. Walaupun nama haltenya udah ada nama ‘Taman Mini’-nya, keyataannya TMII tidak ada di dekatnya. Taman mini tidaklah mudah untuk dijangkau pejalan kaki.

Sesuai saran mas-mas yang jaga halte, kami naik mikolet bernomor punggung 40 -bisa juga naik mikrolet bernomorpunggung 02- yang berbayar 2ribu rupiah. Sudah membayar 2rb, kami masih harus berjalan kaki sekitar 250 m untuk sampai di loket yang di tungguin mas-mbak. Harga tiket yang katanya tamanmini.com Rp 10.000 tidaklah benar, HTM-nya Rp 9.000.

***

Beberapa langkah di depan loket, terdapat tugu Pancasila yang mirip monas. Bingung mau mulai dari mana, kami mulai mempelajari denah TMII di kiri taman Pancasila. Setelah mempelajari denah, tetap saja kami bingung mau mulai dari mana. Kami berjalan tak terarah. Asal jalan aja.

Beberapa meter berjalan, kami bertanya pada security tentang mobil keliling TMII. Sudah jadi kebiasaan untuk browsing mencari info tentang lokasi tujuan terlebih dahulu sebelum berangkat. Beberapa menit menunggu di depan anjungan Rumah Adat Bengkulu, mobil TMII yang berbayar Rp 3.000 datang juga.

Memang sih enak, ga perlu capek-capek untuk menikmati pemandangan kiri kanan TMII sepanjang jalan. Tetapi ga cepet-cepet gini juga pak sopir. Ga puas dengan pelayanan mobil TMII yang jalannya cepet kayak mobil ikut lomba lari yang dalam hitungan menit udah balik lagi ke taman pancasila. Kami berjalan ke arah berlawanan dengan arah mobil tadi untuk melihat dan menikmati anjungan atau hanya sekedar menengok dari kejauhan lokasi yang ini bayar-itu bayar. Hampir semuanya bayar lagi, yang gratis cuma anjungan rumah adat sama museum penerangan. Udah itu aja, yang lainya BAYAR. Hmmm

Saya dilanda kebosanan masuk di TMII yang tidak bersahabat dengan kantong ini. Setelah sholat dhuhur, kami menuju ke Keong Emas. Setelah beberapa kali mengambil gambar, kami mengunjungi acara Pameran Ristek dalam rangka HATEKNAS ke-18 di area parkir Keong Emas. Di sana ada banyak banget pameran dari berbagai instansi negara dan organisasi riset yang berada di bawah naungan LIPI, seperti LAPAN, BIG, BAPETAN, dll.

Semua stand berbaris rapi dua baris di kanan dan kiri pada dua lokasi bersebelahan. Sebagai mahasiswa tentu kami banyak tanya sana-sini ngalor-ngidul pada beberapa stand yang menarik.

Lain alasannya ketika saya mengunjungi standnya IPB yang mencolok sekali dibanding stand yang lain. Di saat cuaca yang lagi panas-panasnyaditambah lagi perut yang udah mulai nge-play lagu keroncong, di stand itu terlihat berbagai warna buah segar yang menarik hati untuk dikunjungi. Setelah basa-basi bertanya tentang minyak sawit, tentang lombok yang berukuran sepertiga jempol yang katanya pedes banget, dan akhirnya tanya tentang produk dari buah-buahan yang bikin nelen air liur. Mas-mas yang jaga stand menjelaskan sangat detail dengan bahasa biologi, yang beberapa kata sudah pernah masuk ke telinga saya saat SMA. Sampai juga saat yang ditunggu-tunggu, masnya nawarin produk manisan buah yang komposisinya dari buah asli. Dengan sigap saya mencicipi setiap manisan berukuran 3 mmx3 mm setelah dijelasin nama buah yang sebagai bahan dasarnya. Warna merah, hijau, kuning, orange, dll. Sambil masnya jelasin, mulutku hampir ga berhenti mengunyah manisan kecil ini.

Lalu, masnya tanya ke saya, “Ngomong-ngomong mas kuliah di mana? Fakultas apa?”.

“Saya dari UNDIP Semarang, fakultas teknik”.

“Owh, berarti ga ada hubungannya dengan pangan ya”.

***

Saya mencari nizma dan aboy yang terpisah dengan saya karena manisan buah. Setelah ketemu, mereka sudah bawah tas kecil yang berisi belasan buku yang beratnya saya taksir satu setengah kilogram. Mereka lagi bercengkrama dengan bapak dari BAPETAN lulusan UNDIP, menjelaskan tentang radiasi nuklir.

Selanjutnya kami mampir ke stand BIG yang kebetulan lagi dijaga mbak Tia dan mbak Nevy yang notabene adalah alumni Geodesi UNDIP. Semangat dan antusias bertanya kita tidak berkurang dari saat awal masuk pameran, bahkan lebih bersemangat karena stand inilah yang dicari-cari. Mendapat penjelasan tentang teknologi baru foto udara menggunakan pesawat kontrol, kami juga berkesempatan mencoba software yang menggunakan kacamata 3D, Summit Evolution yang sudah lama didengar dari teman-teman.

***

Unscheduled travel dimulai di sini Kawan, kami bertiga dimintai tolong sama BIG untuk mengajari adik-adik SMP belajar GPS handheld di Gedung IPTEK TMII. Walaupun di kampus tidak ada penjelasan mengenai cara penggunaan GPS handheld, tetapi kami setidaknya sudah sedikit paham tentang konsep alat GPS itu sendiri. Sambil menunggu adik-adiknya mendengarkan penjelasan GPS di ruangan Albert Einstein, kami diajari penggunaan GPS handheld jadul monokrom yang mirip handphone tahun 2000-an.

Adik-adik yang berjumlah sekitar 40 biji, dibagi menjadi 4 kelompok. Beruntungnya saya kebagian kelompok yang cerewet dan jailnya wow banget. Saat mereka saya kasih penjelasan cara input koordinat dan penjelasan simpel lainnya, mereka bukannya mendengarkan sampai selesai tetapi malah minta segera mencari bendera yang harus mereka temukan dengan menggunakan GPS.

Melihat semangat mereka yang menggebu-gebu, saya hanya bisa mengangguk-angguk mengiyakan sekaligus geleng-geleng mendengar regu koor dadakan yang ‘menyanyi’ tidak senada. Berjalan sesuai arah gambar yang ditunjukkan layar GPS, belum ketemu dengan bendera merah yang dicari. Mereka malah ketemu dengan bendera warna kuning milik kelompok lain. Sifat jail mereka terbukti di sini, mereka sepakat menyembunyikan bendera tersebut di samping bawah lokasi yang sebenarnya. Suara larangan saya yang berbunyi “Jangaaan” tidak mereka gubris sama sekali.

Mereka saya biarkan mencari sendiri, saya hanya berjalan di belakang mereka memastikan mereka tidak berkurang dan melihat mereka yang bercanda ketawa-ketawa bahagia sekali. Menit-menit telah mereka lalui, tetapi bendera yang mereka cari tak kunjung ketemu juga. “Bendera kita ga ketemu-ketemu kayanya gara-gara karma nyembunyiin punya kelompok lain deh”, celetuk salah seorang yang belum masuk masa alay.

Singkat cerita, mereka masuk kelas yang sudah rame. Mereka masuk kelas paling akhir dibanding 3 kelompok lain. Tetapi tidak terlihat wajah kecewa atau sedih dari raut wajah belum alay mereka. Entah karena sudah puas menemukan bendera merah bertuliskan huruf B atau karena memang mereka tidak acuh dengan peringkat empat yang mereka dapatkan.

Benar-benar menyenangkan ngobrol dan bercanda dengan adik-adik SMP ini. Melihat mereka yang antusias dan semangat untuk belajar, wajah yang masih lugu belum tersentuh masa alay dan tidak ketinggalan sifat jahil yang mereka tertawakan sendiri. Mungkin inilah salah satu alasan Ayahku rajin dan senang mengajar anak-anak SMP.

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s