Jalan-Jalan Men: Wonogiri

Melengkapi silaturahmi di keluarga yang benama #kos28, weekend sebelum Hari Raya Idul ‘Adha 1434 H kami berdelapan menuju ke Wonogiri. Setelah lama sekali tidak jalan-jalan bareng sekos, tanggal 11-13 Oktober 2014 kami berkumpul, bersilaturahmi dan pastinya JALAN-JALAN MEEEEN. Silaturahmi ke Wonogiri ini adalah rumah ke-5 dari 7 rumah yang ‘wajib’ kami kunjungi, setelah sebelumnya dari Salatiga, Tenggaran (Salatiga), dan Boyolali. Pakai kata “Jalan-jalan men”, gara-garanya akhir-akhir ini kos 28 lagi terserang virusnya Jebraw lewat video jalan-jalannya yang pecaaaah banget.

Jumat sore sehabis menunaikan sholat maghrib, kami berdelapan (Ali, Aufan, Thoriq, Rudi, Silvandie, Arga, Satya dan Wahyu Gendut) dengan motor masing-masing siap menuju ke Wonogiri. Sampai di Salatiga mampir dulu jemput Theo, teman seangkatan yang asli Wonogiri. Mampir lagi ke Boyolali untuk menitipkan motor di rumah Satya. Mampir untuk istirahat sekaligus mengisi tenaga untuk perjalanan panjang yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ini untuk kali pertama aku akan menginjakkan kaki di tanah Wonogiri.

DSC05103sTim Jalan-jalan Men (Wonogiri)

Jam 20.30 kami berangkat dari rumah Satya. Berjalan melewati gelapnya malam dan udara yang semakin menit semakin dingin. Kesalahan pertamaku dalam perjalanan ini adalah memakai sandal. Sangat tidak dianjurkan melakukan perjalanan motor malam-malam memakai sandal, bisa mengakibatkan kaki masuk angin. Perjalanan kami ke Wonogiri melewati jalur dari Klaten, jalanan kecil III C dan berbukit-bukit. Jalan menanjak sekaligus menikung tidak jarang kami lewati. Untung drivernya anak motor semua, jadi jalan seperti ini bukan masalah yang berarti.

Tepat pukul 23.30, sampai juga kami di desa Karang Lor RT:2/1, Manyaran, Wonogiri. Berhubung kami berjalan malam-malam dan rame-rame, ada bapak-bapak desa yang membuntuti kami karena curiga manusia-manusia ini mau ngapain, mungkin seperti itu yang ada di pikiran bapak ini. Gonggongan anjing menyambut kedatangan kami yang dianggap pencuri karena orang asing yang bertamu bukan pada waktu yang wajar.

Kedua orangtua arga menyambut kami dengan ramah dan welcome sekali. Makan malam dan camilan sudah disiapkan menyambut perut kami yang terakhir diisi 3 jam yang lalu oleh kue bandung di Salatiga. Kesalahan keduaku adalah tidak membawa sajadah unutuk sholat, karena di penghuni rumah ini beragama Katholik. Terpaksa saat sholat subuh jaket angkatan kami sulap menjadi sajadah. Next trip, don’t forget to pick sajdah for your travelling. Very important.

Kolam Renang Umbul NogoKolam Renang Umbul Nogo

Pagi menjelang, tujuan pertama kami ke kolam renang baru yang tidak jauh dari tempat arga. Kolam renang umbul nogo, kolam renang kecil yang terdiri dari 2 kolam renang dengan 3 macam kedalaman, 65 cm, 90 cm dan 165 cm. Beberapa dari kami menikmati kolam renang dengan benar (baca: renang) dan yang lainnya memanfaatkan kolam renang sebagai tempat membasahi badan ajah. Dan saya termasuk golongan berapa? Ga perlu ditanyakan. Bagi golongan kedua, mulai belajar gaya katak. Dengan dipandu teman-teman yang sudah expert, penganut golongan kedua belajar seenaknya. Muka keluar-masuk ke air, tangan pengangan pinggiran kolam.

Ini yang bisa renangIni bukan gambar nogo

Perjalanan selanjutnya, kami menuju kota Wonogiri, yang jaraknya tiga kali rumahku ke kota Sragen. Waktu 45 menit lebih habis di perjalanan, melewati waduk gajah mungkur yang luasannya seperti lautan. Kata arga yang katanya bersumber dari Wikipedia, Wdauk Gajah Mungkur adalah waduk terluas se-Asia Tenggara.Waduk yang kelihatan sangat luas githu padahal lagi musim kemarau, apalagi kalau lagi musim hujan.

GantoleGapura Gantole

Di kota, kita melanjutkan silaturahmi ke rumah Theo sekaligus pindah tempat tidur untuk hari kedua di Wonogiri. Sore-sore, kami menuju ke Gantole. Bukit yang tinggi yang memungkinkan kita untuk melihat luasnya waduk gajah mungkur semakin jelas. Di tempat tertinggi dari Gantole ini ada bangunan yang disediakan untuk menikmati pemandangan alam Wonogiri secara gratis. Berdiri di sini serasa naik gunung memakai kendaraan bermotor. Angin yang kencang, udara yang dingin, warna orange langit sore yang menambah kesejukkan hati. Lokasi yang keren untuk dinikmati waktu sore hari sebagai refreshing dari kepenatan. Recommended.

sunsetSunset View From Gantole

Malamnya, kita jalan-jalan ke kota Wonogiri, muterin alun-alun Wonogiri yang ga begitu luas tetapi rame anak muda yang nongkrong dan saya pastikan ga suka sepakbola Indonesia. Karena saat itu sedang berlangsung pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19. Dari alu-alun kami ke utara sedikit melewati kantor BPN yang gedungnya lumayan gede untuk ukuran kantor BPN yang pernah saya temui. Next, melewati SMA 2 Wonogiri, ex sekolah Theo dan Arga. Terus melewati stadion wonogiri yang remang-remang, terlihat remang-remang pasangan-pasangan yang duduk di taman stadion. Semoga mataku salah melihat.

Nah, itulah JALAN-JALAN MEN edisi Wonogiri kami. Semoga ikatan silaturahmi bisa terus terjaga sampai dunia akhirat. INGAT: Jangan lupa bawa alat sholat (sajadah) ketika hendak jalan-jalan. Oke men??😀

DSC05103s

Satu pemikiran pada “Jalan-Jalan Men: Wonogiri

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s