UNO Tidak SNI

Hujan rintik-rintik tanpa jeda sejak pagi sampai sore ini belum juga selesai. Kami masih tetap bertujuh, kami berkumpul di ruangan tepat depan kamar, seperti biasa. Masing-masing sibuk sendiri, sampai akhirnya aku memulai usulan untuk main kartu UNO. Tidak ada suara yang mengiyakan, tapi satu persatu mereka mulai duduk melingkar di tengah ruangan, siap bermain, kecuali Ayie. Ayie tidak mempunyai pengalaman apalagi prestasi kartu UNO. Game start.

Sebelum permainan dimulai, kita sepakati peraturan permainan. Ada peraturan aneh yang mereka gunakan selain peraturan umum, pelanggaran tidak hanya saat mengucapkan UNO tapi ditambah kata ‘AKU’.

“Oke. Gampang.”, batinku.

Permainan beneran dimulai. Kartu mulai dibagian oleh Lia, newbie. Permainan sudah berjalan satu putaran. Semua aman, tidak ada pelanggaran. Sampai putaran kedua, samping kananku sudah membuang kartu. Aku tidak memperhatikan.

“Siapa yang main? Aku?”, pertanyaan yang aku jawab sendiri.

Hmmm, empat kartu bertambah di jajaran kartu uno yang sudah duluan di tangan. Permainan dilanjutkan.

Beberapa menit berlalu. Kartu yang paling atas di tumpukan kartu buangan tidak ada satupun yang sesuai dengan kartu yang aku punya baik nomor maupun warna. Aku harus mengambil satu kartu di tumpukan rapi kartu minuman.

Yes. Kartu yang aku ambil mempunyai nomor yang sama dengan kartu buangan. Kartu langsung aku buang. Teman-teman yang lain tanpa koordinasi namun barengan kompak bilang, “Ga boleh”.

“Kok ga boleh. Permainan uno di tab aku aja bisa kok.”,ucapku membantah.

Aku melakukan 2 larangan peraturan sekaligus. Mengucapkan kata ‘uno’ dan ‘aku’. Delapan kartu melayang di tangan sekaligus. Peraturan yang aku kira gampang dilaksanain ternyata mematikan sekali. Sampai permainan cuma menyisakan aku dan Lia. Pemain yang lebih pro dibanding seorang newbie.

Namun demikian, permainan ini tidaklah mudah. Lia yang cuma memegang 4 kartu melawan aku yang memegang kartu tujuh kali lipatnya. Sampai 10 jariku tidak mampu menguasai pejuh kartu. Beberapa kartu aku taruh dibawah berdasarkan kemiripan kartu untuk mengurangi tingkat stress di tangan dan otak.

Dan endingnya bisa dipastikan siapa pemenangnya.

Tidak hanya itu saja peraturan tak ber-SNI-nya. Permainan uno kami juga melanggar etika. Saat permainan tinggal menyisakan dua orang dengan keadaan yang 99% menang untuk satu orang, Mas Wahyu, yang tinggal memegang satu kartu bergambar bulatan berisi empat warna melawan Ayie yang memegang kartu lebih dari 5 kartu tanpa kartu unggulan semisal +2 atau +4.

Mas Wahyu sudah siap-siap menyambut kemenangan dengan bersujud syukur dilanjutkan dengan ketawa kemenangan yang hampir pasti di pihak dia. Suara koar-koar kemenangan tidak lupa keluar dari mulutnya untuk memojokkan lawan.

Melihat Ayie yang sudah kebingungan untuk mengeluarkan kartu apa untuk menunda kemenangan lawan. Aku dan Slem punya ide yang sebenarnya sangat tidak pantas untuk dilakukan. Ide yang tidak sesuai etika permainan uno. Dengan cara Ayie melanggar peraturan dengan bilang uno berulang kali. Dia akan mendapatkan kartu yang bertuliskan +2 atau +4 untuk menunda ataupun menggagalkan kemenangan Mas Wahyu.

Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah kartu yang ada di tangan Ayie. Sampai akhirnya dia menemukan kartu ajaib berkekuatan +4. Tidak berhenti di situ, Ayie mengeluarkan kartu ajaib +2 berjumlah lebih dari dua untuk menghukum Mas Wahyu. Sampai-sampai jumlah kartu kedua orang ini hampir berjumlah sama buanyaknya.

Peraturan UNO ini tidak sesuai SNI. -___-

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s