First Flight

Pesawat terbang. Jaman SD sering sekali aku melipat-lipat kertas dari sobekan tengah-tengah buku tulis. Kertas itu aku lipat sesimetris mungkin membentuk pesawat-pesawatan agar bisa terbang berkelok-kelok dan bertahan di udara selama mungkin. Semakin bagus kelokan terbangnya pesawat akan berbanding lurus dengan lamanya pesawat itu terbang. Kalau bisa sampai yang demikian, bangga dan senengnya bukan main. Sebaliknya, landing pesawat yang buruk akan gampang merusak ujung bentuk pesawat.

Dulu waktu SD, melihat pesawat terbang melintasi atas kepala kita aja senengnya bukan main. Aku bilang ‘kita’ karena memang aku ga sendirian yang seneng liat pesawat lewat. Aku dan temen sepermainan. Mata tidak akan berkedip lihat pesawat sampai pesawat benar-benar ga kelihatan. Dulu memang sering bermimpi untuk bisa ada di dalam tubuh burung besi ini. Apalagi pas melihat dari bawah pesawat itu terbang, doa akan dipanjatkan lebih kencang lagi dalam hati. Mungkin terlalu lebay aku cerita seperti itu. Maklum, tinggalny jauh dari bandara dan ga pernah pergi jauh.

***

Hari ini tanggal 5 September 2014, mimpi anak kecil itu hampir menjadi nyata. Mimpi yang bisa dibilang terlalu kampungan bagi anak-anak orang kaya. Tas ransel menjadi pilihan dibandingkan koper untuk menempatkan baju yang siap dipakai selama seminggu perjalanan. Anak SD itu telah menjadi seorang freahgraduate yang melangkahkan kaki ke next step of life. Belum sampai sebulan dia menyandang gelar Sarjana Teknik (ST), dia mulai mengembara mencari pengalaman baru.

Perjalanan dari Semarang menuju Jakarta telah ditempuh hampir 14 jam pada sehati sebelumnya, berangkat keluar kos 28 jam 9 malam sampai di Jakarta jam 11 siang. Beruntung perjalanan ke Jakarta ini bisa nebeng mobil Adib, jadi bisa melewati beberapa kabupaten dan kota selama perjalanan. Semarang-Kendal-Pekalongan-Pemalang-Tegal-Babakan-Cirebon-Indramayu-Pamanukan-Purwakarta-Bekasi-Jakarta. Tidur dengan kaki terlipat menjadi satu-satunya pilihan.

Perjuangan tidur dengan kaki ga bisa diluruskan masih berlanjut saat perjalanan dari Cinere menuju bandara Soekarno-Hatta yang ditempuh selama 2 jam lebih.

Sampailah di Bandara, memasuki bandarai melalui jalur C3. Karena bawaan yang banyak perlu bantuan trolly untuk mengangkutnya. Lalu berjalan menuju pintu masuk dengan menunjukkan kode booking pesawat yang dibeli secara online. Lalu melewati pengamanan barang bawaan. Disini hape masih di kantong saya tanpa melalui scan pengamanan. Lalu menukarkan e-tiket dengan tiket pesawat untuk masing-masing penumpang. Kemudian melalui scan pengamanan lagi semua barang bawaan. Nah di sini semua barang termasuk barang elektronik harus dilewatkan ke dalam lorong pengamanan. Kalau tidak, alat pedeteksi logam petugas akan berbunyi. Setelah itu tinggal mengikuti instruksi mbak-mbak yang ngomong terus di bandara.

Sampai akhirnya kode penerbangan kita disebutkan untuk mulai memasuki pesawat. Langkah demi langkah, anak tangga telah dilewati. Mimpi anak kecil itu telah terwujud. Pesawat mainan itu telah berubah menjadi pesawat yang sebenarnya. Pesawat yang memiliki tempat duduk rapi, jendela kaca berukuran kecil di samping kanan dan kiri. Dia benar-benar telah berada di perut burung besi.

Beberapa menit kemudian pesawat mulai bersiap untuk take off. Sembari pemanasan, di ruang kosong antara kursi kanan dan kiri berdiri 3 pramugari yang memperagakan keselamatan jika terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Seperti cara memakai pelampung, evakuasi, mengambil oksigen, dll. Setelah semua selesai, pesawat mulai berjalan mengikuti jalan untuk mengambil ancang-ancang take off. Pesawat yang semula bergemuruh tidak begitu keras, pelan-pelan pesawat akan mengeluarkan bunyi semakin keras seakan burung besi ini mengumpulkan tenaga. Lalu burung ini berlari sekuat tenaga semakin lama semakin kencang. Dan akhirnya pesawat lepas landas. Terbang menuju angkasa.

Bismillah. Pesawat dari Bandara Soeta menuju Bandara Minangkabau telah terbang melewati awan. Kota Tangerang semakin kecil, lama-lama tertutup awan dan hilang. Pemandangan langit orange di sebelah barat menjadi pemandangan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Karena memanga aku suka momen saat matahari terbit dan matahari tenggelam. Tenang

Yup. Kurang lebih satu setengah jam telah terlewati. Alhamdulillah sampailah aku bersama teman-teman di tempat tujuan. Padang beri aku pengalaman dan cerita yang bisa aku bagikan buat anak cucu kelak.

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s