Kekuatan Dalam Usaha

Sebuah kata atau kalimat yang diutarakan sebagai bagian dari bentuk kerendahan diri kita sebagai makhluk. Sebuah kekuatan, sebuah pengharapan, sebuah kepasrahan, sebuah motivasi. Tidak pandai saya merangkai kata, hanya sebagian kenangan yang pernah saya lewati yang bisa saya utarakan.

Beberapa kekuatan doa yang pernah saya rasakan efeknya. Mulai dari kecil dididik oleh bapak-ibu untuk mengucapkan doa sebelum sebelum tidur sampai doa khusus sebelum ujian. Doa yang hampir selalu saya ucapkan sebagai senjata utama.

Yaaa, saya tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Oleh karenanya saya lebih mengandalkan kekuatan doa dalam setiap usaha. Saking lemahnya, saya memohon bantuan senjata (red: doa) dari orang tua, dan teman-teman dekat. Berkali-kali saya membuktikan kekuatan dari sebuah doa. Mulai dari jaman keemasan ketika SD sampai jaman batu akik seperti sekarang.

Doa tidak hanya mempunyai peran pelengkap, tetapi doa adalah kekuatan ekstra dibalik ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Membuka peta kenangan lampau, waktu itu masih kelas 5 SD diiming-imingi oleh guru saya. “Kamu besok kalau SMP sekolah di sini”, kata guru saya sembari menunjuk tulisan besar di sudut barat daya sekolahan. “Di sini, kamu akan menemukan banyak teman-teman baru yang pinter-pinter, biar kamu tambah pinter.”

Pulang sampai rumah, seperti anak kecil umumnya saya langsung ceritakan kepada kedua orang tua saya. “Buk, nanti kalau SMP saya mau sekolah di SMP Negeri 5 Sragen yaa”, sambil merengek seperti minta dibeliin mainan Tamiya. Saya yakin, sehabis mendengar permintaan seperti itu, Ibu-Bapak langsung bermunajat kepada Allah.

Melewati beberapa periode kenangan kedepan dari jaman SD, ketika sedang musim mencari tempat kuliah tidak jauh berbeda. Kali ini terkontaminasi oleh cerita-cerita senior SMP. “Kuliah di Semarang itu keren. Tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat dari Sragen.” Otak yang polos (kala itu) gampang sekali terpengaruh kalimat murahan itu. Seperti biasa, saya sering sekali mengutarakan keinginan saya. Walaupun semuanya tetap harus berdasarkan pertimbangan saran dan masukan dari Bapak-Ibu dan kakakku. Ketika minta pertimbangan antara Solo, Jogja dan Semarang. Bapak lebih memilih di Solo, dengan pertimbangan dekat dengan rumah. Sedangkan Ibu lebih memilih Semarang atau Jogja, “Cowok kok kuliah deket-deket. Cupuuu”. Obrolan yang biasa kami lakukan setiap sore ketika makan malam selepas maghrib.

Karena bingung mengikuti kata siapa, walaupun dalam otak masih tertancap kuat keinginan kuliah di Semarang. Saya putuskan untuk mendaftar hampir semua jalur masuk perguruan tinggi entah Semarang, Solo, atau Jogja. UM UGM, UM UNDIP, PSSB UNDIP, PMDK UII, PMDK STTA, PMDK UMS. Sampai akhirnya keinginan untuk kuliah di perguruan negeri hampir sirna, hanya menyisakan satu harapan. SNMPTN. Karena hanya satu harapan, saya utarakan keinginan kuliah di perguruan tinggi kepada guru ngaji saya. Beliau hanya menjawab dengan nada bercanda, “palingan ntar keterima di Semarang”. Saya yakin itu bukan cuma bercandaan yang terucap tetapi juga merupakan doa seorang guru agama.

Lanjut ke peta kenangan yang lebih jauh dalam perjalanan. Sebelum memasuki semester 8, saat itu setelah upacara keberangkatan KKN. Saya menuliskan rencana berupa timeline tiap bulan sebagai targetan yang harus dilalui untuk memperoleh gelar ST. Timeline whiteboard yang tertempel di tembok yang biasanya saya gunakan sebagai pengingat jadwal kuliah tersebut mengandung doa dan motivasi. Tentu terkandung juga doa Ibu-Bapak yang saya minta untuk mendoakan supaya saya bisa lulus bulan Juli. Saya meminta doa mereka spesifik berikut bulannya.

Sampai akhirnya sebelum pelaksanaan seminar proposal, saya kaget karena ada perubahan jadwal yang berbeda dengan peraturan jadwal wisuda tahun sebelum-sebelumnya. Untuk bisa ikut wisuda perode Agustus, batas terakhir kelulusan adalah 30 Juni. Langsung saya hubungi Ibu saya untuk merevisi doanya. “Ibu, mulai sekarang doanya diubah ya, bukan ‘Ali lulus bulan Juli lagi’, tetapi ‘Ali lulus sebelum bulan Juli’. Terima kasih Ibu”.

Ada doa di dalam setiap usaha, keinginan dan harapan selama menempuh dan membuat jalur peta kenangan kehidupan ini. Walaupun tidak semua apa yang diinginkan akan terwujud, tetapi ada usaha dengan kekuatan ekstra di dalamnya. Dan setelah kita usaha maksimal, hanya akan ada sedikit kekecewaan yang tersisa.

Seperti postingan Aa Gym dalam Doa Dulu Atau Ikhtiar Dulu. Hanya Allah yang Maha tau segalanya, yang menciptakan rejeki kita. Oleh karenanya, perlu melibatkan doa kepada Allah dibalik ikhtiar.

“Tidak sekali kali Aku ciptakan jin dan manusia untuk Ibadah.” (Adz Dzaariyaat: 56)

Doa yang paling bagus adalah doa yang husnudzon kepada Allah, kalau kita yakin Allah akan menolong, maka pasti akan ditolong Allah, tapi yakin harus dengan amal yang sungguh-sungguh.

Apapun keinginan kita selama itu baik dan untuk memperoleh ridho Allah, sertakan doa dalam setiap usahanya.

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s