I Love You, Mom

Buku bersampul warna pink unyu yang berjudul ‘PS: I Love Mom’ karya Buku Berkaki terbitan Bukune seakan membangunkanku dari perasaan lama yang ingin aku ceritakan. Bagaimana buku ini membawaku terbang ke dunia fantasi versiku sendiri melalui deskripsi dari penulis. Aku bebas membayangkan dan memasuki setiap lukisan kata penulis. Baru selesai membaca cerita pertama, aku langsung gantian bercerita melalui tulisan ini. Tidak perlu menunggu ulang tahun atau menunggu Hari Ibu.

Ibuku adalah sosok wanita paling tangguh, sosok nomer satu dan tidak akan pernah ada nomor selain nomor itu. Tidak akan ada yang pernah bisa merebut gelar juara itu. Selamanya. Sampai kapanpun. Sosok wanita yang akan menjadi bagian dari referensiku untuk menentukan pasangan masa depanku nantinya.

Masih jelas tergambar dalam ingatanku, masa kecilku yang menurut ibuku sudah saatnya anaknya ini tidak cuma sekedar ikut-ikutan gerakan sholat Ayahnya di barisan paling depan, di depan shaf pertama. Bukan saatnya lagi aku berada di depan makmum shaf pertama mengganggu konsentrasi Ayahku yang khusu’ memimpin makmumnya beribadah. Aku yang akan tiduran atau sekedar duduk di samping Ayah ketika aku merasa capek mengikuti gerakan sholat.

Sore itu, aku memutuskan untuk tidak ikut Ayah sholat berjamaah Maghrib ke Masjid yang berjarak tidak sampai 200m dari rumah. Aku lebih memilih sholat bareng Ibu di mushola ukuran 4×4 m yang dibangun di pojok depan bagian rumah. Setelah sholat selesai seperti biasa, Ibu mengajari aku mengaji iqro’. Setelah selesai mengaji, untuk pertama kalinya Ibu mengajakku untuk belajar bacaan sholat.

Berulang kali aku selalu salah bacaannya atau kadang terhenti karena lupa lanjutan dari bacaan. Ibuku dengan sabar membenarkan dan sesekali memberikan aku waktu untuk berpikir dan mengingat-ingat bacaan. Karena ibu sadar, tidak mungkin aku akan langsung lancar gerakan dan bacaan sholatnya. Maka beberapa waktu, saat ibu menemaniku menonton tv akan mencuri-curi perhatianku dari tv. Memanfaatkannya untuk menguji hafalan sholat. Dan ibuku sukses memecah pikiranku dari menonton tv menjadi mengingat hafalan sholat.

Untuk memperlancar hafalan sholat, ibu kembali membiarkanku ikut Ayah ke masjid. Dengan catatan tidak lagi berdiri di samping Ayah, tetapi di belakangnya, baris rapi dengan makmum lainnya.

Ibu memang tidak pernah mengeluh capek mengurus rumah, walaupun kadang mimik muka capeknya tidak bisa disembunyikan lagi. Beliau selalu menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga. Masakan andalan buatan Beliau adalah Nasi Goreng. Entah itu andalan atau sekedar trik ibuku memanfaatkan nasi sisa semalam daripada dibuang. Tapi Nasi Gorengnya enak banget. Sampai saat inipun Nasi Goreng menjadi menu favoritku karena Beliau.

Dari mulai sekolah dasar sampai SMA, hampir setiap berangkat sekolah tidak pernah absen untuk pamitan dengan mencium tangan ibu. Tangan yang kasar karena digunakan untuk memasak, mencuci dan kegiatan rumah tangga lainnya. Dan seperti biasa Beliau akan menunjukkan senyum terbaiknya untuk mengantar keberangkatan sekolahku. Senyum manis yang juga mengandung doa didalamnya.

Waktu terus berjalan, Aku memasuki dunia perkuliahan. Berbeda dengan kebiasaan pamit sebelum sekolah. Aku yang biasa pulang setiap dua minggu sekali. Saat siap-siap balik ke Semarang, Ibu akan menjadi sosok yang paling sibuk menyiapkan bekal dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Pamitan sebelum berangkat ke perantauan berbeda semasa sekolah, tidak hanya senyum berisi doa yang Aku dapatkan tetapi doa dan pesan yang diutarakan langsung. “Kuliah tenanan dek. Mugo-mugo ilmune manfaat lan berkah. Ati-ati di jalan.”

Empat tahun telah berlalu dengan cepat, seperti baru kemarin aku mendengar kalimat di atas. Sekarang sudah berubah kondisinya. Aku harus belajar lebih mandiri dari semasa menyandang status Mahasiswa, harus semakin perhatian dengan Ibu. Aku yang merantau semakin jauh dari rumah. Telah aku buat jadwal rutin untuk menghubungi Beliau minimal seminggu sekali ketika Weekend.

“Assalamu’alaikum”, kata pembuka yang aku ucap ketika telpon sudah diangkat.

“Wa’alaikumsalam. Dek Ali?”, suara di handphone seberang dengan suara ceria yang aku selalu aku ingikan tergambar dalam raut wajah Beliau.

Nah begitulah, Ibuku yang selalu ceria ketika menerima telpon dariku. Begitu juga aku yang tidak mau kalah ceria untuk berbagi cerita kegiatan selama seminggu. Kami akan saling bertukar cerita. Ibuku yang dulu saat aku di rumah lebih sedikit curhat, sekarang bisa curhat panjang lebar masalah rencananya yang mau baju baru dengan mengajak Kakakku atau curhat masalah Adikku yang kalau dinasihatin bilang ‘Iya’ sebelum Ibuku selesai menasehati. Sampai akhirnya Beliau habis bahan ceritanya lalu bertanya, “Sudah makan? Mandi? Sholat? Ga lupa ngaji kan?”. Kalau sudah muncul pertanyaan seperti itu setelah cerita panjang lebar, berarti kami sudah kehilangan bahan obrolan. Dan saatnya menutup telpon. Diakhiri dengan doa ibu supaya aku selalu diberi yang terbaik.

Perhatian dan kasih sayang Ibu tidak akan pernah berhenti mengalir, bahkan sudah mengalir sebelum kita dilahirkan. Ibu akan pilih-pilih makanan agar si jabang bayi, mendapatkan gizi dan menu yang sehat. Beliau tidak pernah mengeluh membawa kemanapun Beliau pergi selama 9 bulan 10 hari. Beliau berjuang dengan taruhan nyawa saat melahirkan. Yang katanya melahirkan itu sakitnya pakai banget. Belum lagi setelah lahir akan harus bangun tengah malam karena tangisan bayi layaknya alarm yang tidak diset waktunya.

Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil

Semoga Ibu dan Ayah selalu dalam keadaan sehat dan bahagia bersamaan dengan prosesku menuju kesuksesan dan membuat kalian bangga. Doa dan terima kasihku memang tidak akan pernah mampu melunasi semua kasih sayang dan pengorbananmu, tetapi aku akan berusaha menjadi Anak yang sholih.

I Love You Mom :’)

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s