Jalan-jalan-jalan di Singapore

Seminggu yang lalu (ketika draft ini dibuat, baru diposting sekarang) saya mencoba pengalaman baru, pengalaman pertama, jalan-jalan ke luar negeri. Dengan tujuan untuk mengisi paspor yang sudah dibikin bulan Oktober 2015, sayang kalau udah bikin dan bayar tetapi belum diisi sama sekali.

Sebelumnya saya mau mengucap syukur Alhamdulillah, karena diberikan kesempatan waktu yang hampir kejar-kejaran dari setiap media transportasi yang saya pakai mencukupi waktunya, sejak perjalanan dari Tegal sampai dengan Singapore trus kembali ke Tegal lagi tentunya. Karena kalau tidak kembali ke Tegal (mungkin) saya akan dicariin beberapa orang. Karena saya mengabaikan beberapa orang yang menelepon saya ketika di Singapore. Bukannya saya sok sibuk, tetapi saya kasihan pulsa, pulsa saya dan pulsa penelepon. Kalau bukan boss yang sms, tidak saya bales juga.

IMG_3046.JPG

Kereta telah tiba

Saya berangkat stasiun Tegal- stasiun Pasar Senen (04-11-2016) jam 05.48-09.54 WIB, lanjut naik Uber dengan sedikit gerimis dan deg-degan kalau waktunya tidak cukup untuk Jumat-an. Alhamdulillah, sampainya di Bandara Terminal 2, masjid masih belum mulai jumatan. Dengan sedikit usaha untuk mencari tempat sujud dikarenakan jumlah jamaah dan jumlah tempat sujud yang tidak sebanding. Mungkin perlu perluasan area masjid. Pesawat Lion Air dengan waktu tempuh 13.00-15.40 WIB. Sebelum berangkat sempat diwawancari oleh petugas check in karena baru pertama kali ke luar negeri. Dibilang macam-macam, sampai ditanyain jumlah uang saku, kirain dia mau nambahin.

IMG_3056.JPG

Changi Airport Singapore

Sampailah kaki kanan dan kiri ini di Negara tetangga, sebelum ke petugas imigrasi. Pendatang harus mengisi formulir kedatangan. Kalau salah isi nanti dibantu petugas, kalau salahnya banyak suruh balik ambil formulir lagi. Tenang bukan balik ke negara asal kok.

Cara bernafas di Singapore masih sama, menggunakan hidung untuk menghirup oksigen (Alhamdulillah nikmat sehat). Bedanya di singapore kelihatan lebih tertib. Ketika antre di bagian imigrasi, antrean tertib di belakang garis, begitupun ketika naik MRT (Mass Rapid Transit ). MRT itu mirip KRL gitu dah, tapi lebih cepet. Ketika di eskalator orang yang tidak berjalan (cuma berdiri) berada di sebelah kiri sedangkan sebelah kanan dipergunakan untuk orang yang jalan cepat atau sedang terburu-buru, di jalan raya mobil tertib mengikuti lampu dan aturan yellow box, menunggu sampai penyebrang terakhir, jadi pejalan kaki menyebrang dengan nyaman, dll.  Yang terlihat mencolok di negara ini, tata kota dan ketertiban warganya mengikuti peraturan yang berlaku.

IMG_3332.JPG

Garis merah dan hijau (bukan rok putih)

Menurut kacamataku (saya memang sedang memakai kacamata ketika itu) di sana kebanyakan Chinese yang emang tinggal di Singapore, taunya chinese karena aku tidak bisa ngepoin artikel yang dibaca melalui hape, entah berita atau catatan kuliah. Sebagian orang India yang sedang tujuan belajar dan berdagang, Indonesia sebagai wisatawan. Kebiasaan dari orang-orang sini (anggap saja aku ngetiknya di Singapore) jalan cepat mungkin untuk mengejar  jadwal MRT atau emang mereka atlet jalan cepat. Mereka juga banyak yang memanfaatkan waktu tunggu di dalam MRT untuk menonton film atau serial drama. Dengan adanya MRT ini banyak orang jalan kaki, selama di sana media transportasi yang aku gunakan cukup MRT, sampai-sampai memecahkan rekor jumlah langkah kakiku selama sehari.

IMG_3365.PNG

Dua puluh tujuh ribu empat pulu empat langkah, 17.8 km

Mencari makanan yang cocok dengan lidah jawa (Indonesia) seperti aku kelihatannya susah, mesti pilih-pilih kecuali fastfood masih sama saja. Ini masih Singapore, yang jaraknya 1.097,06 KM dari Tegal, gimana dengan negara yang lebih jauh sana yak. Biar tetap merasa enak dengan makanan yang masuk di dalam perut, aku makan nasi-ayam-telur. Sampai akhirnya aku penasaran dengan makanan lain, ketika di Mustafa aku memberanikan makan nasi briyani, porsinya banyak, suapan pertama unik ada kriuk-kriuknya, dicampur dengan telur lumayan enak, sampai akhirnya aku mengunyah bulatan kecil yang tersembunyi dalam tumpukan nasi, terkunyah dengan sempurna, merica, rasanya menjadi kacau, perut mulai menolak barang yang masuk perut, coba dibantu dengan minuman, bukannya membantu proses pencernaan malah semakin membuat kacau perut, rasanya mau muntahin lagi semua yang termakan.

IMG_3199.JPG

Nasi Briyani

Karena sampai sana malam, untuk memanfaatkan waktu, jalanlah ke mall, Ion Orchard. Yang entah dari sisi mana aku masuk dan entah dari mana  aku bisa keluar, serasa berada di dalam labirin di bawah permukaan tanah yang bertingkat yang isinya orang jual-beli. Sampai tiba-tiba terlihat mobil kencang dari celah orang lalu lalang. Ganti hari, ganti baju, sholat subuh di Masjid Sultan, kebetulan dekat dengan hostel, Sleepy Kiwi hostel. Jalan National Stadium, muterin stadion 3/4 putaran ada gerbang yang terbuka yang dijaga petugas, dengan ramah kami dipersilakan masuk untuk sekedar untuk berkomentar takjub dan berfoto-foto.

Singkat cerita, National Stadium-Singapore Flyer-Marina Bay Sands-Merlion Park-Artscience Museum-Gardens By The Bay-Universal Studio.

singapore

Singapore

Pulang yuk! Besok kerja lagi. Mampir nginjak kaki di Batam sekalian foto sebentar. Cusss. Jakarta-Tegal. Alhamdulillah jalan-jalan singkatnya lancar dan berkesan.

Selamat bekerja 🙂

Iklan

Pembaca yang baik meninggalkan jejak di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s